obat batuk

Prinsip yang harus selalu dipegang adalah tidak ada obat yang seratus persen aman buat kehamilan. Berikut beberapa jenis obat yang aman untuk dikonsumsi bumil:
Antihistamin seperti chlorpheniramine (CTM), loratadine, doxylamine, brompheniramine, phenindamine, pheniramine, triprolidine, dan diphenhydramine , tetapi obat2 ini bisa membuat ngantuk terutama doxylamine and diphenhydramine.

Ekspektoran (pengencer dahak) seperti guaifenesin (GG) cukup aman untuk dikonsumsi.
Penekan batuk seperti dextromethorphan (DMP) aman digunakan, karena sudah ada penelitian pada wanita hamil tdak menyebabkan cacata bawaan.

Obat penghilang nyeri atau demam seperti acetaminophen (parasetamol) sangat aman dipergunakan, dan sudah banyak penelitian yang mendukungnya. Asalakan memakainya sesuai dengan dosis yang dianjurkan.

Berikut ini kandungan obat yang sebaiknya dihindari:
Dekongestan seperti pseudoephedrine dan phenylephrine, terutama pada TM I, karena ada laporan penenlitian yang menyatakan bisa menyebabkan cacat bawaan. Walaupun risikonya rendah, namun jika si ibu perokok maka risikonya bisa menjadi tinggi. Jika dipergunakan setelah TM pertama dengan dosis tidak melebihi 2 kali perhari cukup aman. Pemakaian lebih dari itu akan menyebabkan menurunnya aliran darah ke ari-ari.

Obat2 penghilang nyeri seperti aspirin, ibuprofen, naproxen, sodium salicylate, dan obat2an nonsteroid anti-inflammatory drugs (NSAID) sebaiknya dihindari. Karena jika dikonsumsi pada TM I kehamilan bisa menyebabkan keguguran. Informasi terbaru menyebutkan penggunanaan NSAID pada TM II dan III bisa meningkatkan risiko cacat bayi terutama cacat jantung.

Usahaklan juga mengkonsumsi obat batuk pilek yang bebas alkohol. Jadi tinggal dilihat saja kandungan obat batuk flu yang dibeli, kemudian jika mengandung obat yang sebaiknya tdak dimakan ya jangan dimakan…begitu juga sebaliknya.

 

Beberapa zat aktif yang terdapat dalam obat batuk adalah:
Ekspektoran: Guaiphenesin atau Gliceryl Guaiakolat, Na Sitrat dan Ammonium klorida (biasanya terdapat dalam OBH). GG menurunkan viskositas lendir dengan cara meningkatkan volume dan kandungan air dari sekret tenggorokan dan membantu pengeluaran sputum.
Antitusif: Dextromethorphan HBr. Mengontrol kejang batuk dengan menekan pusat medulari batuk.
Mukolitik: Bromhexine HCl.
Antihistamin: Triprolidine HCl, Brompheniramine maleate, Difenhidramine HCl, Doxylamine succinate, Oxomemazine, CTM. Triprolidine HCl sebagai antagonis kompetitif untuk reseptor H1, mampu menekan sistem saraf pusat. Antihistamin biasanya memiliki efek sedative sehingga menyebabkan ngantuk.
Dekongestan: Pseudoefedrin HCl, merupakan amin simpatomimetik yang bekerja pada α adrenergic dalam mukosa saluran napas sehingga menyebabkan vasokontriksi mengurangi pembengkakan pada membran mukosa dan melancarkan jalan napas pada hidung.
Analgesik antipiretik: Parasetamol, biasanya terdapat pada obat batuk yang disertai flu.

 

Obat batuk yang lazim digunakan adalah Dextrometorfan sebagai antitusif (penekan batuk) dan gliseril guaikolat sebagai ekspektoran (mengeluarkan dahak). Dekstrometorfan, walaupun berasal dari golongan opioid, dekstrometorfan tidak mempunyai sifat opioid seperti analgetik atau adiktif sehingga disebut non-opioid. Dekstrometorfan bekerja sentral dengan meninggikan ambang refleks batuk. Hampir sama kuat dengan kodein, tidak menimbulkan gangguan saluran cerna dan kantuk.

Ekspektoran adalah obat yang merangsang pengeluaran dahak dari saluran nafas. Bekerja melalui perangsangan mukosa lambung dan secara refeks merangsang sekresi saluran nafas sehingga mempercair dan mempermudah pengeluaran dahak. Gliseril guaikolat digunakan dalam bentuk tunggal atau kombinasi.

Mukolitik adalah obat yang mengencerkan lendir salurna nafas seperti bromhexin, ambroxol, dan asetilsistein (diberikan spray). Bromhexin memiliki efek samping mual, harus diminum hati-hati oleh penderita maag. Ambroxol adalah keluarga bromhexin sehingga cara kerja dan penggunaannya sama

 

INDUKSI PERSALINAN

INDUKSI dan AKSELERASI PERSALINAN

  Angka tindakan pemberian oksitosin baik dengan tujuan induksi persalinan atau mempercepat jalannya persalinan (augmentation labor atau akselerasi persalinan) meningkat dari 20% pada tahun 1989 menjadi 38% pada tahun 2002.
Pembahasan berikut ini menyangkut deskripsi berbagai tehnik pematangan servik dan sejumlah skema induksi atau akselerasi persalinan.

KONSEP UMUM
INDUKSI PERSALINAN ELEKTIF

Saat ini sudah terbukti bahwa tindakan induksi persalinan semakin sering dilakukan. American College of Obstetricians and Gynecologists (1999a) berdasarkan resiko persalinan yang berlangsung secara cepat, tidak mendukung tindakan ini kecuali untuk indikasi-indikasi tertentu (rumah parturien yang jauh dari rumah sakit atau alasan psikososial).
Luthy dkk (2002): Tindakan induksi persalinan berhubungan dengan kenaikan angka kejadian tindakan sectio caesar.
Hoffman dan Sciscione (2003): Induksi persalinan elektif menyebabkan peningkatan kejadian sectio caesar 2 – 3 kali lipat.
Induksi persalinan elektif pada kehamilan aterm sebaiknya tidak dilakukan secara rutin mengingat bahwa tindakan sectio caesar dapat meningkatkan resiko yang berat sekalipun jarang dari pemburukan out come maternal termasuk kematian.
Induksi persalinan eletif yang dirasa perlu dilakukan saat aterm (≥ 38 minggu) perlu pembahasan secara mendalam antara dokter dengan pasien dan keluarganya.

INDUKSI PERSALINAN ATAS INDIKASI

Tindakan induksi persalinan dilakukan bila hal tersebut dapat memberi manfaat bagi ibu dan atau anaknya.
INDIKASI:

  1. Ketuban pecah dini dengan chorioamnionitis
  2. Pre-eklampsia berat
  3. Ketuban pcah dini tanpa diikuti dengan persalinan
  4. Hipertensi dalam kehamilan
  5. Gawat janin
  6. Kehamilan postterm

KONTRA INDIKASI:

  1. Cacat rahim ( akibat sectio caesar jenis klasik atau miomektomi intramural)
  2. Grande multipara
  3. Plasenta previa
  4. Insufisiensi plasenta
  5. Makrosomia
  6. Hidrosepalus
  7. Kelainan letak janin
  8. Gawat janin
  9. Ragangan berlebihan uterus : gemeli dan hidramnion
  10. Kontra indikasi persalinan spontan pervaginam:
    • Kelainan panggul ibu (kelainan bentuk anatomis, panggul sempit)
    • Infeksi herpes genitalis aktif
    • Karsinoma Servik Uteri
PEMATANGAN SERVIK PRA INDUKSI PERSALINAN

Tingkat kematangan servik merupakan faktor penentu keberhasilan tindakan induksi persalinan.
Tingkat kematangan servik dapat ditentukan secara kuantitatif dengan “BISHOP SCORE” yang dapat dilihat pada tabel 1
Nilai > 9 menunjukkan derajat kematangan servik yang paling baik dengan angka keberhasilan induksi persalinan yang tinggi
Umumnya induksi persalinan yang dilakukan pada kasus dilatasi servik 2 cm, pendataran servik 80% , kondisi servik lunak dengan posisi tengah dan derajat desensus -1 akan berhasil dengan baik.
Akan tetapi sebagian besar kasus menunjukkan bahwa ibu hamil dengan induksi persalinan memiliki servik yang tidak “favourable” ( Skoring Bishop < 4 ) untuk dilakukannya induksi persalinan.

Tabel 1 Sistem Skoring Servik “BISHOP” yang digunakan untuk menilai derajat kematangan servik
Sistem Skoring Servik

METODE PEMATANGAN SERVIK MEDIKAMENTOSA
Prostaglandine E2

Dinoprostone lokal dalam bentuk jelly ( Prepidil ) yang diberikan dengan aplikator khusus intraservikal dengan dosis 0.5 mg.
Dinoproston vaginal suppositoria 10 mg (Cervidil).
Pemberian prostaglandine harus dilakukan di kamar bersalin.
Pemberian oksitosin drip paling cepat diberikan dalam waktu 6 – 12 jam pasca pemberian prostaglandine E2.
Efek samping: Tachysystole uterine pada 1 – 5% kasus yang mendapat prostaglandine suppositoria.

Prostaglandine E1

Misoprostol (Cytotec) dengan sediaan 100 dan 200 µg.
Pemberian secara intravagina dengan dosis 25 µg pada fornix posterior dan dapat diulang pemberiannya setelah 6 jam bila kontraksi uterus masih belum terdapat.
Bila dengan dosis 2 x 25 µg masih belum terdapat kontraksi uterus, berikan ulang dengan dosis 50 µg.
Pemberian Misoprostol maksimum pada setiap pemberian dan dosis maksimum adalah 4 x 50 µg ( 200 µg ).
Dosis 50 µg sering menyebabkan :

  • Tachysystole uterin
  • Mekonium dalam air ketuban
  • Aspirasi Mekonium

Pemberian per oral: Pemberian 100 µg misoprostol peroral setara dengan pemberian 25 µg per vaginam

METODE PEMATANGAN SERVIK MEKANIS
  1. Pemasangan kateter transervikal
  2. Dilatator servik higroskopik ( batang laminaria )
  3. “stripping” of the membrane
Pemasangan kateter Foley transervikal.

image
Tidak boleh dikerjakan pada kasus perdarahan antepartum, ketuban pecah dini atau infeksi.
Tehnik:

  • Pasang spekulum pada vagina
  • Masukkan kateter Foley pelan-pelan melalui servik dengan menggunakan cunam tampon.
  • Pastikan ujung kateter telah melewati osttium uter internum
  • Gelembungkan balon kateter dengan memasukkan 10 ml air
  • Gulung sisa kateter dan letakkan dalam vagina
  • Diamkan kateter dalam vagina sampai timbul kontraksi uterus atau maksimal 12 jam
  • Kempiskan balon kateter sebelum mengeluarkannya dan kemudian lanjutkan dengan infuse oksitosin.

Dilatator servik higroskopik
Dilakukan dengan batang laminaria.
Dilakukan pada keadaan dimana servik masih belum membuka.
Pemasangan laminaria dalam kanalis servikalis.
12 – 18 jam kemudian kalau perlu dilanjutkan dengan infus oksitosin sebelum kuretase.
clip_image002[4]
Gambar 1:

  1. Pemasangan laminaria didalam kanalis servikalis
  2. Laminaria mengembang
  3. Ujung laminaria melebihi ostium uteri internum (pemasangan yang salah)
  4. Ujung laminaria tidak melewati ostium uteri internum (pemasangan yang salah)
Stripping of the membrane”

image
Metode efektif dan aman untuk mencegah kehamilan posterm.
Menyebabkan peningkatan kadar Prostaglandine serum.

INDUKSI &amp; AKSELERASI PERSALINAN

Dilakukan dengan menggunakan oksitosin sintetis.
Induksi persalinan dan akselerasi persalinan dilakukan dengan cara yang sama tapi dengan tujuan yang berbeda.

Induksi Persalinan (induction of labour): merangsang uterus untuk mengawali proses persalinan.
Akselerasi Persalinan (augmented of labour) : merangsang uterus pada proses persalinan untuk meningkatkan frekuensi – durasi dan kekuatan kontraksi uterus [HIS].
Pola persalinan yang BAIK adalah bila terdapat 3 HIS dalam 10 menit dengan masing-masing HIS berlangsung sekitar 40 detik.
Bila selaput ketuban masih utuh, dianjurkan bahwa sebelum melakukan induksi atau akselerasi persalinan terlebih dahulu dilakukan Pemecahan Selaput Ketuban (ARM ~ Artificial Rupture of Membranes atau amniotomi)

AMNIOTOMI

Pecahnya selaput ketuban (spontan atau artifisial ) akan mengawali rangkaian proses berikut:

  • Cairan amnion mengalir keluar dan volume uterus menurun;
  • Produksi prostaglandine, sehingga merangsang proses persalinan;
  • HIS mulai terjadi (bila pasien belum inpartu) ; menjadi semakin kuat ( bila sudah inpartu)
Tehnik :

image

Perhatikan indikasi!!

  • CATATAN : Pada daerah dengan prevalensi HIV tinggi, pertahankan selaput ketuban selama mungkin untuk mengurangi resiko penularan HIV perinatal
  • Dengar dan catat DJJ
  • Baringkan pasien dengan tungkai fleksi dan kedua tungkai saling menjauh dan kedua lutut terbuka
  • Gunakan sarung tangan steril, lakukan VT dengan tangan kanan untuk menilai konsistensi – posisi – dilatasi dan pendataran servik
  • Masukkan “amniotic hook” kedalam vagina
  • Tuntun “amniotic hook” kearah selaput ketuban dengan menyusuri jari-jari dalam vagina
  • Dorong selaput ketuban dengan jari-jari dalam vagina dan pecahkan selaput ketuban dengan ujung instrumen
  • Biarkan cairan amnion mengalir perlahan sekitar jari dan amati cairan amnion yang keluar
  • Setelah pemecahan ketuban, dengarkan DJJ selama dan setelah HIS
  • Bila DJJ < 100 atau > 180 dpm : dugaan terjadi GAWAT JANIN .
  • Bila persalinan diperkirakan TIDAK TERJADI DALAM 18 JAM berikan antibiotika profilaksis untuk mengurangi kemungkinan infeksi GBS pada neonatus:
  • Penicillin G 2 juta units IV; atau Ampicillin 2 g IV, tiap 6 jam sampai persalinan; Bila tidak ditemukan gejala infeksi pasca persalinan, hentikan pemberian antibiotika
  • Bila setelah 1 jam tidak nampak tanda-tanda kemajuan persalinan MULAILAH PEMBERIAN OKSITOSIN INFUS
  • Bila indikasi induksi persalinan adalah PENYAKIT MATERNAL IBU YANG BERAT ( sepsis atau eklampsia) mulailah melakukan infuse oksitosin segera setelah amniotomi.
Komplikasi amniotomi:
  1. Infeksi
  2. Prolapsus funikuli
  3. Gawat janin
  4. Solusio plasenta
TEHNIK PEMBERIAN OKSITOSIN DRIP
  1. Pasien berbaring di tempat tidur dan tidur miring kiri
  2. Lakukan penilaian terhadap tingkat kematangan servik.
  3. Lakukan penilaian denyut nadi, tekanan darah dan his serta denyut jantung janin
  4. Catat semua hasil penilaian pada partogram
  5. 2.5 – 5 unit Oksitosin dilarutkan dalam 500 ml Dekstrose 5% (atau PZ) dan diberikan dengan dosis awal 10 tetes per menit.
  6. Naikkan jumlah tetesan sebesar 10 tetes permenit setiap 30 menit sampai tercapai kontraksi uterus yang adekuat.
  7. Jika terjadi hiperstimulasi (lama kontraksi > 60 detik atau lebih dari 4 kali kontraksi per 10 menit) hentikan infus dan kurangi hiperstimulasi dengan pemberian:
    • Terbutalin 250 mcg IV perlahan selama 5 menit atau
    • Salbutamol 5 mg dalam 500 ml cairan RL 10 tetes permenit
  8. Jika tidak tercapai kontraksi yang adekuat setelah jumlah tetesan mencapai 60 tetes per menit:
  9. Naikkan konsentrasi oksitosin menjadi 5 unit dalam 500 ml dekstrose 5% (atau PZ) dan sesuaikan tetesan infuse sampai 30 tetes per menit (15mU/menit)
  10. Naikan jumlah tetesan infuse 10 tetes per menit setiap 30 menit sampai kontraksi uterus menjadi adekuat atau jumlah tetesan mencapai 60 tetes per menit.
Jika masih tidak tercapai kontraksi uterus adekuat dengan konsentrasi yang lebih tinggi tersebut maka:
  • Pada multipgravida : induksi dianggap gagal dan lakukan sectio caesar.
  • Pada primigravida, infuse oksitosin dapat dinaikkan konsentrasinya yaitu :
    • 10 Unit dalam 400 ml Dextrose 5% (atau PZ) , 30 tetes permenit
    • Naikkan jumlah tetesan dengan 10 tetes permenit setiap 30 menit sampai tercapai kontraksi uterus adekuat.
    • Jika sudah mencapai 60 tetes per menit, kontraksi uterus masih tidak adekuat maka induksi dianggap gagal dan lakukan Sectio Caesar.
Jangan berikan oksitosin 10 Unit dalam 500 ml Dextrose 5% pada pasien multigravida dan atau penderita bekas sectio caesar
Rujukan :
  1. Bujold E, Blackwell SC, Gauthier RJ: Cervical ripening with transervical foley catheter and the risk of uterine rupture. Obstet Gynecol 103:18, 2004
  2. Culver J, Staruss RA,Brody S, et al: A randomized trial comapring vaginal misoprostol versus Foley catheter with concurrent oxytocin for labor induction in nulliparous women. Am J Perinatol 21:139, 2004
  3. Cunningham FG (editorial) : Induction of labor in “William Obstetrics” 22nd ed p 536 – 545 , Mc GrawHill Companies 2005
  4. Guinn DA et al : Extra-amniotic saline infusion, laminaria, or prostaglandine E2 gel for labor induction with unfavourable cervix: A randomized trial. Obstet Gynecl 96:106, 2000
  5. HoffmanMK, Sciscione AC : Elective induction with cervical ripening increase the risk of caesarean delivery in multiparous women. Obstet Gynecol 101:7S, 2003
  6. Saiffudin AB (ed): Induksi dan Akselerasi persalinan dalam “Buku Panduan Praktis Pelayanan Kesehatan Maternal Dan Neonatal” YBPSP,Jakarta, 2002
  7. Smith KM, Hoffman MK, Sciscione A: Elective induction of labor in nulliparous women increase the risk of caesarean delivery. Obstet Gynecol 101, 45S, 2003

sumber: full from http://reproduksiumj.blogspot.com

OPERASI CAESAR

PERSIAPAN OPERASI
Persiapan operasi Cesar sama seperti operasi pada umumnya yaitu, pasien dipuasakan selama 4 jam
sebelum operasi, pemeriksaan darah seperti darah tepi, pembekuan darah, golongan darah, gula
darah, HbS Antigen dan sebagainya. Bayi dimonitor dengan alat cardiotokografi. Bila perlu diberikan
obat corticosteroid dengan tujuan pematangan paru janin terutama bila kurang bulan ( kurang dari
37 minggu). Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa bayi cukup bulan yang lahir melalui operasi
Cesar mempunyai risiko pernafasan yang lebih besar daripada yang lahir biasa. Pada bayi yang lahir
melalui operasi Cesar tetapi sebelumnya telah masuk dalam fase persalinan, risiko ini berkurang
karena setiap persalinan menlepaskan zat yang dinamakan catecholamines dan prostaglandin yang
meningkatkan sekresi surfactant untuk pematangan paru janin.
Antibiotika biasanya diberikan untuk profilaktif terhadap infeksi, biasanya diberikan dosis tunggal kira
kira 2 jam sebelum operasi. Kulit terutama ditempat operasi harus dicuci yang bersih dan kadang
kadang dicukur, walaupun beberapa kepustakaan mengatakan bila terlalu lama akan menimbulkan
infeksi kulit akibat luka akibat cukur.
Sebelum operasi biasanya dilakukan klisma untuk mengeluarkan sisa-sisa kotoran yang masih ada
dalam usus besar sehingga tidak menimbulkan masalah saat operasi.
Persiapan yang tidak kalah pentingnya yaitu mengetahui status hemodinamik seperti pernafasan,
kardiovaskuler, system pembekuan darah, persiapan darah, pemeriksaan darah seperti kadar gula
darah, fungsi hati, ginjal dan pemeriksaan terhadap penyakit menular seperti hepatitis, HIV dll.
ANESTESIA PADA OPERASI CESAR
Sebelum ditemukannya anesthesia regional seperti spinal dan epidural, anesthesia umum sering
digunakan pada operasi Cesar. Saat ini anesthesia umum masih merupakan pilihan bila operasi harus
dilakukan sesegera mungkin karena pada anesthesia umum setidaknya lama waktu yang dibutuhkan
untuk mencari ruang antar ruas tulang belakang ditiadakan. Anestesi umum juga dapat digunakan
pada keadaan tertentu dimana anestesi regional merupakan kontraindikasi seperti gangguan
pembekuan darah, sepsis, hipovolemia berat akibat perdarahan masif, kelainan pada tulang belakang
dan riwayat operasi tulang belakang. Kerugian daripada anesthesia umum adalah hipotensi pada ibu
dan depresi pernafasan pada bayi.
Anestesi regional seperti spinal dan epidural mempunyai keuntungan tidak mempengaruhi
pernafasan bayi walaupun teknik lebih sulit dan memakan waktu lebih lama daripada anesthesia
umum. Tetapi anestesia regional mempunyai kerugian berupa dapat menyebabkan hipotensi pada
55% pasien yang dapat diatasi oleh pemberian vasopressor dan mengangkat kaki pasien. Selain itu
sering penderita mengeluh sakit kepala karena kebocoran cairan spinal pada bekas lubang tusukan
jarum. Keuntungan lain anastesia regional, pasien bisa menyusui dalam waktu yang tidak terlalu lama
dan dapat makan minum, tidak seperti anesthesia umum yang membutuhkan waktu puasa sampai
bising usus terdengar.
SAYATAN KULIT
Jenis sayatan pada kulit dipilih yang mempunyai akses optimal pada lapangan operasi, sehingga
meminimalisasi angka morbiditas ibu, tetapi juga harus mempunyai efek kosmetik yang maksimal.
Sampai tahun 1900 sayatan yang paling digemari pada saat itu adalah sayatan vertical. Pada tahun
1886 Kustner dan Rapin melakukan sayatan transversal, yang kemudian disempurnakan oleh
Pfanenstiel. Saat ini sayatan vertical telah ditinggalkan dan haya dilakukan pada kondisi tertentu saja.
Sayatan vertical dilakukan karena akses ke lapangan operasi yang sangat baik disamping sayatan itu sendiri dapat diperluas ke atas kalau ditemukan komplikasi saat operasi. Sedangkan sayatan
transversal dipercaya mengurangi nyeri pasca operasi dan mengurangi nyeri saat bernafas yang
dalam. Disamping itu sayatan transversal mempunyai efek kosmetik yang sangat baik karena
pengurangan tegangan antara tepi luka dan sayatan ini sejajar dengan garis kulit. Tetapi sayatan ini
mempunyai kelemahan karena sering timbul risiko perdarahan dibawah lapisan kulit (suprafascial
hematoma).

SAYATAN PADA DINDING RAHIM
Dahulu dilakukan sayatan longitudinal atau klasik yang memanjang dari atas ke bawah, tetapi karena
sayatan ke atas mengenai otot rahim yang berkontraksi, sering pada kehamilan berikut, pasien
mengalami robekan pada otot rahim (rupture uteri). Saat ini dengan kemajuan teknik operasi,
sayatan dilakukan secara transperitoneal profunda yaitu sayatan melintang di segmen bawah rahim
dengan terlebih dahulu membuka pembatas rahim dengan kandung kencing (plika vesikouterina).
Memang sayatan ini lebih sulit dan kadang meluas kesamping sehingga dapat melukai pembuluh
darah (A.Uterina), tetapi risiko untuk rupture uteri dikemudian hari sangat sedikit.
Pada keadaan tertentu dimana dibutuhkan kecepatan untuk melahirkan bayi sayatan klasik masih
digunakan, tetapi biasanya dilanjutkan dengan sterilisasi. Pada kehamilan premature dimana segmen
bawah rahim belum terbentuk sempurna dilakukan sayatan longitudinal rendah, yaitu seperti sayatan
klasik hanya letaknya mendekati segmen bawah rahim.

MELAHIRKAN BAYI
Bayi dilahirkan dengan cara meluksir kepala dengan tangan (penolong) atau dengan ekstraksi vakum
atau forseps ringan. Pada letak sungsang atau lintang bayi dilahirkan dengan ekstraksi pada kaki atau
bokong.
Segera setelah bayi dilahirkan yang harus mendapat perhatian adalah saluran pernafasannya, harus
segera dibersihkan dari lender dan darah yang terhirup oleh bayi. Setelah saluran pernafasan bersih
baru dilakukan upaya supaya bayi mengangis. Talipusat diikat dan dipotong dan selanjutnya bayi
diserahkan kepada tim bayi baru lahir. Plasenta dilahirkan dengan tarikan ringan atau secara manual,
tempat implantasi plasenta diperiksa secara seksama untuk mengetahui apakah ada sisa plasenta
atau selaput ketuban yang tertinggal atau tidak. Selanjutnya dinding rahim dijahit dan kontraksi
rahim diperhatikan. Keadaan saluran dan indung telur dinilai secara seksama pada kedua sisi.

PERSALINAN PADA BEKAS SC
Ada banyak keuntungan yang didapatkan pada persalinan biasa setelah pada persalinan terdahulu dilakukan operasi Cesar, diantaranya adalah pemulihan yang lebih cepat, perawatan di RS yang lebih
singkat, infeksi pasca persalinan yang lebih sedikit, dan perdarahan yang lebih sedikit sehingga
kebutuhan tranfusi darah otomatis menjadi lebih sedikit. Tetapi disamping itu ada beberapa risiko
yang harus diketahui pada persalinan bekas SC diantaranya bahaya rupture uteri atau robeknya
rahim terutama pada bekas sayatan klasik. Beberapa penelitian menunjukkan angka !% frekuensi
terjadinya rupture uteri pada bekas SC. Beberapa factor yang mempengaruhi kejadian rupture uteri
pada persalinan bekas SC adalah : pasien telah lebih dari sekali dilakukan operasi Melahirkan Caesar,
makin tua umur pasien, makin pendek jarak melahirkan, adanya demam pada persalinan terdahulu,
induksi partus, kelainan bentuk rahim(?) dll.
BEBERAPA PERTANYAAN YANG SERING DILONTARKAN PASIEN
1. Berapa lama setelah operasi boleh makan, duduk, menyusui bayi?
Jawab: Bila dilakukan anesthesia regional boleh makan segera setelah tidak mual dan bila anesthesia
umum sampai bising usus terdengar biasanya 24 jam setelah operasi, menyusui bayi bisa dilakukan
sesegera mungkin, sedangkan duduk pada anesthesia regional setelah 18 jam.
2. Apakah bisa minum obat China setelah operasi.
Jawab: Sebaiknya bila ada tendensi perdarahan, obat obat tersebut dihindari karena sifat obat yang
memiliki khasiat vasodilator.
3. Apakah pada waktu Cesar bisa sekalian dilakukan operasi pengecilan perut?
Jawab : Kalau sekedar lipectomy mengangkat lemak sekitar luka bias dilakukan tetapikalau mau
mengangkat lemak yang lebih luas diperlukan bedah Plastic dank arena perut masih menyusut,
sebaiknya dilakukan pada 40 hari setelah melahirkan, demikian pula halnya dengan
aginoplasty, kalau kolporafi yang sifatnya luas sebaiknya setelah 40 hari.
4. Apakah kalau sekalian sterilisasi akan mengganggu aktivitas seksual?
Jawab : Tidak, karena yang dipotong/diikat hanya saluran telur bukan indung telur.
5. Berapa kali operasi Cesar bisa dilakukan?
Jawab: Sebaiknya tidak lebih dari 3 kali, walaupun penulis pernah melakukan
sampai 5 kali dan saat ini pasien sehat, tetapi hal ini tidak dianjurkan.
6. Apakah operasi Cesar dapat menyebabkan kematian?
Jawab : Bisa, oleh karena itu harus dilakukan informed consent terlebih dulu.
7. Apakah tranfusi darah rutin diberikan?
Jawab : Tidak, kecuali pada penderita perdarahan, rupture uteri, janin kembar
dll.
8. Kapan hubungan kelamin bisa dilakukan setelah operasi cesar?
Jawab : sama seperti melahirkan biasa sebaiknya hubungan kelamin dilakukan setelah selesai
masa nifas kira kira 6-8 minggu setelah operasi.

KEPUSTAKAAN.
1. Gilstrap III LC, Cunningham FG and Vandorsten. Operative Obstetrics,2nd ed.McGrawhill,2002: 257-276.
2. Lee-Parritz A, Surgical techniques for Cesarean delivery: What are the best practice?,
Clin.Obstet-Gynecol,2004,vol47,No.2:268-298.
3. WickwireJC and Gross JB.From Preop to Postop: Cesarean Delivery From Anesteshiologist’s Point
of View,Clin Obstet-Gynecol,2004, Volume 47, Number 2 :299-316.
4. Doherty EG and Eichenwald EC. Cesarean Delivery: Emphasis on the Neonate.
Clin.Obstet-Gynecol,2004, vol47,No.2:332-341.
5. Shipp TDTrial of Labor After Cesarean: So, What Are The Risks?, Clin.Obstet-Gynecol,2004,vol 47,
No.2:365-377.

sumber :  Dr. Yahya Darmawan, SpOG. Di tulis kembali dari “rumahsakitmitrakemayoran.com”

 

Persiapan yang harus dilakukan sebelum operasi Caesar

 

  • Puasa selama 4 jam
  • Pemeriksaan darah yang meiliputi pemeriksaan darah tepi, pembekuan darah, golongan darah, gula darah, HbS Antigen dan sebagainya.
  • Bayi dimonitor dengan alat cardiotokografi.
  • Jika janin berusia kurang dari 37 minggu, biasanya janin diberikan obat untuk mempersiapkan paru-parunya yaitu corticosteroid. Pada bayi yang lahir melalui operasi Cesar tetapi sebelumnya telah masuk dalam fase persalinan normal tidak diperlukan tambahan obat ini karena pada proses persalinan normal tubuh melepaskan zat yang dinamakan catecholamines dan prostaglandin yang berfungsi meningkatkan sekresi surfactant untuk pematangan paru janin.
  • Dua jam sebelum operasi biasanya ibu diberikan antibiotic untuk mencegah infeksi.
  • Kulit ditempat akan dilakukan operasi dibersihkan.
  • Dilakukan pembersihan terhadap sisa-sisa kotoran yang masih ada di usus besar sehingga tidak menimbulkan masalah saat oeprasi.
  • Melakukan pengecekan hemodinamik seperti pernafasan, kardiovaskuler, sistem pembekuan darah, persiapan darah, pemeriksaan darah seperti kadar gula darah, fungsi hati, ginjal dan pemeriksaan terhadap penyakit menular seperti hepatitis, HIV dll.

 

sumber dr anakibu.com

Rumus Tetesan Cairan infus

Tetesan/ Menit

         faktor tetes       Otsuka — 1cc   = 15 tetes

               faktor tetes    Terumo — 1 cc =  20 tetes

 

          (Kebutuhan cairan x faktor tetes)  = Jumlah tetesan/menit

                (jumlah jam x 60menit)

contoh

            (Kebutuhan cairan x Faktor tetes) = jumlah tetesan/menit

                  (Jumlah jam x 60 menit)

 

             Infus set Otsuka   (2.500 x 15)  = 37.500 = 26 tetes/menit

                                          (24 x 60)         1.440

             

            Infus set Terumo    (2.500 x 20)  = 50.000 = 35 tetes/menit

                                           (24 x 60)         1.440

Macro
Jika yang ingin dicari tahu adalah berapa tetesan yang harus kita cari dengan modal kita tahu jumlah cairan yang harus dimasukkan dan lamanya waktu, maka rumusnya adalah:
MACRO = 1 cc = 20 tts/mnt

Tetes/menit : (jumlah cairan x 20) / (Lama Infus x 60)

Jika yang dicari adalah lama cairan akan habis, maka rumusnya adalah sebagai berikut:

Lama Infus: (Jumlah Cairan x 20) / (jumlah tetesan dlm menit x 60)

Misal: seorang pasien harus mendapat terapi cairan 500 ml dalam waktu 4 jam, maka jumlah tetesan yang harus kita berikan adalah (500 x 20 ) / ( 4 x 60 ) = 10000 / 240 = 41,7 = 42 tetes/menit begitupun untuk rumus lama infuse tinggal dibalik aja.

Micro
Selang infuse micro adalah selang infuse yang jumlah tetesannya lebih kecil dari macro, biasanya terdapat besi kecil di selangnya, dan biasanya digunakan untuk bayi, anak dan pasien jantung dan ginjal. Rumus untuk menghitung jumlah tetesannya adalah sebagai berikut:

Jumlah tetes/menit : (Jumlah cairan x 60 ) / (Lama Infus x 60)

Sedangkan rumus lamanya cairan habis adalah sebagai berikut:

Lama waktu : ( Jumlah Cairan x 60) / (jumlah tetesan dalam menit x 60)

 

Contoh kasus
Dokter meresepkan kebutuhan cairan Nacl 0,9 % pada Tn A 1000 ml/12 jam. faktor drips (tetes) 15 tetes/1 ml. berapa tetes per menit cairan tersebut diberikan?

Strategi menjawab kasus
1. Ketahui jumlah cairan yang akan diberikan
2. konversi jam ke menit (1 jam = 60 menit)
3. masukkan kedalam rumus (Jumlah cairan yang dibutuhkan dikali dengan faktor drips, lalu dibagi dengan lamanya pemberian)

Jadi jawabannya adalah (1000 x 15)/(12 x 60) = 15.000/720 = 20.86 dibulatkan jadi 21
Cairan tersebut harus diberikan 21 tetes/menit.

Terkadang kita agak kesulitan dalam menghitung tetesan infus yang akan kita berikan kepada seorang pasien, berikut tips2 nya

RUMUS
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro

contoh soal :
1. infus 500 cc diberikan kepada seorang pasien 20 tetes makro/ menit habis dalam berapa jam? jika dalam micro?
jawab : 1 cc = 20 tetes makro –> berarti pasien diberikan 1 cc/ menit
infus yang tersedia 500 cc –> = akan habis dalam 500 dibagi 60 menit = 8,333 jam
kalo dalam micro tinggal di kali 3 aja. jadinya = 24,99 jam.
2. berapa tetes macro per menit tetesan 500 cc infus RL harus diberikan agar habis dalam 4 jam?
jawab : 500 cc dibagi 4 jam = 125 cc –> ini jumlah cc RL yang harus diberikan per jamnya
125 cc dibagi 60 = 2,083 cc / menit. ini jumlah cc RL yang harus diberikan per menitnya.
1 cc = 20 tetes makro = 60 tetes mikro jadi 2,083 cc = (2,083 x 20) 41,66 tetes makro = (2,083 x 60) 124,98 tetes mikro.

Tulisan ini diambil dari beberapa blog  lain..

merumuskan diagnosa/masalah aktual dan diagnosa/masalah potensial

BAB II

PEMBAHASAN

2.1  PENGERTIAN NIFAS

a.Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001:225)

b. Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira enam minggu (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Ne’bnatal, 2001:122)

c. Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira enam minggu (Wiknjosastro, Hanifa, 1999: 237)

d. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alat-alat kandungan kembali seperti pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, Rustam, 1998:115)

e. Infeksi nifas adalah infeksi pada dan melalui traktus genetalis setelah persalinan. Suhu 38 °C atau lebih yang terjadi antara hari ke 2-10 postpartum dan diukur peroral sedikitnya empat kali sehari.

 

2.2  Tujuan Asuhan Nifas

Tujuan dari pemberian asuhan pada masa nifas untuk :

1.    Menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis.

2.    Melaksanakan skrinning secara komprehensif, deteksi dini, mengobati atau merujuk bila terjadi komplikasi pada ibu maupun bayi.

3.    Memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, KB, cara dan manfaat menyusui, pemberian imunisasi serta perawatan bayi sehari-hari.

4.    Memberikan pelayanan keluarga berencana.

5.    Mendapatkan kesehatan emosi.

 

2.3 Merumuskan Diagnosa/Masalah Aktual

Setelah memperoleh data tentang status kesehatan ibu kemudian dilakukan analisis data dan intrpretasi sehingga didapat rumusan diagnosa. Sehingga akan diperoleh kesimpulan apakah masa nifas ibu normal atau tidak. Walaupun dalam diagnosa keadaan ibu nifas normal, ibu mungkin mengalami ketidaknyamanan akibat perubahan fisiologis yang terjadi pada masa nifas, sehingga bidan harus dapat merumuskan apakah kebutuhan spesifik ibu.

a.    Masalah nyeri

Gangguan rasa nyeri pada masa nifas banyak dialami meskipun pada persalinan normal tanpa komplikasi. Hal tersebut menimbulkan ketidak nyamanan pada ibu. Setelah melahirkan tubuh akan terasa sakit tapi tidak akan bertahan lama. Berikut adalah beberapa cara untuk meringankan sakit dan nyeri sesudah melahirkan.

1)    Afterpains atau keram perut

Hal ini disebabkan kontraksi dan relaksasi yang terus menerus pada uterus banyak terjadi pada multipara. Kram ini kadang-kadang disebut nyeri sehabis melahirkan. Jika telah melahirkan sebelumnya atau jika ibu menyusui, hal ini mungkin terasa lebih menyakitkan. Nyeri ini akan menghilang dalam beberapa hari.

 

2)    Nyeri Perineum.

Perineum, daerah antara vagina dan anus, meregang pada saat melahirkan. Dapat juga disebabkan karena luka episiotomi, laserasi dan penjahitan perineum. Salah satu penyebab ini dapat membuat daerah ini terasa sakit dan terlihat bengkak dan memar. Untuk mengurangi ketidaknyamanan dan mempercepat penyembuhan:

·         Kompres dingin.

·         Lakukan sitz bath (duduk diatas baskom berisi air hangat).

·         Selalu bersihkan dari depan ke belakang setelah menggunakan toilet. Ini akan membantu mencegah daerah yang sedang mengalami penyembuhan episiotomi atau perobekan terinfeksi kuman dari dubur.

3)    Masalah berkemih.

Pada hari-hari pertama setelah melahirkan, mungkin merasa ingin buang air kecil tetapi tidak ada yang keluar, nyeri dan rasa terbakar setelah buang air kecil. Hal ini biasanya hilang dalam beberapa hari setelah persalinan.

Untuk mengurangi pembengkakan atau nyeri, cobalah warm sitz bath.  Untuk membantu memicu aliran air seni, semprotkan air hangat pada alat kelamin dengan squeeze bottle (botol pencet). Menyalakan keran saat berada di kamar mandi juga dapat membantu. Pastikan untuk minum banyak cairan. Jika masih tidak bisa berkemih secara teratur, hubungi dokter.

Beberapa wanita mungkin mengalami masalah mengompol setelah melahirkan. Dengan berjalannya waktu, kekuatan otot panggul akan kembali dan masalah akan hilang dengan sendirinya pada kebanyakan kasus. Latihan Kegel juga akan membantu mengencangkan otot-otot ini (lihat kotak). Jika masalah ini terus mengganggu, beri tahulah dokter.

4)          Konstipasi

Disebabkan karena motilitas usus berkurang selama paersalinan, obat anastesi, dan mungkin ibu takut karena sakit atau merusak jahitan. Asuhan yang dilakukan yaitu:

·            Memperbanyak minum, minimal 3 liter perhari.

·            Meningkatkan makanan yang berserat, seperti buah-buahan.

·            Biasakan BAB tepat waktu, saat pertama kali ada dorongan untuk BAB.

·            Kalau perlu pemberian laksatif untuk melunakkan feses

5)        Hemoroid

Hemoroid disebabkan adanya penekanan uterus terhadap vena didalam anus dan rectum selama kehamilan dan pada saat proses persalinan. Pada ibu yang sudah mengalami hemoroid sebelum kehamilan penekanan tersebut akan memperparah keadaan hemoroid

 

b.    Masalah infeksi

Setelah persalinan terjadi beberapa perubahan penting diantaranya makin meningkatnya pembentukkan urin untuk mengurangi hemodilusi darah, terjadi penyerapan beberapa bahan tertentu melalui pembuluh darah vena sehingga terjadi peningkatan suhu badan sekitar 0,5oC yang bukan merupakan keadaan patologis atau menyimpang pada hari pertama. Perlukaan karena persalinan merupakan tempat masuknya kuman kedalam tubuh, sehingga menimbulkan infeksi pada kala nifas. Infeksi kala nifas adalah infeksi peradangan pada semua alat genitalia pada masa nifas oleh sebab apapun dengan ketentuan meningkatnya suhu badan melebihi 38 oC tanpa menghitung hari pertama dan berturut-turut selama dua hari.

Faktor predisposisi infeksi masa nifas diantaranya adalah :

1.    Persalinan berlangsung lama sampai terjadi persalinan terlantar.

2.    Tindakan operasi persalinan.

3.    Tertinggalnya plasenta selaput ketuban dan bekuan darah.

4.    Ketuban pecah dini atau pada pembukaan masih kecil melebihi enam jam.

5.    Keadaan yang dapat menurunkan keadaan umum, yaitu perdarahan antepartum dan post partum, anemia pada saat kehamilan, malnutrisi, kelelahan dan ibu hamil dengan penyakit infeksi.

Mekanisme terjadinya infeksi kala nifas

Terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut:

1.    Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang suci hama.

2.    Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial).

3.    Hubungan seks menjelang persalinan.

4.    Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari enam jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeksi).

Gambaran klinis infeksi umum dapat dalam bentuk :

1.    Infeksi Lokal

a.  Pembengkakan luka episiotomi.

b.  Terjadi penanahan.

c.  Perubahan warna lokal.

d.  Pengeluaran lochia bercampur nanah.

e.  Mobilisasi terbatas karena rasa nyeri.

f.   Temperatur badan dapat meningkat.

2.    Infeksi General

a.  Tampak sakit dan lemah.

b.  Temperatur meningkat diatas 39 oC.

c.  Tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat.

d.  Pernapasan dapat meningkat dan napas terasa sesak.

e.  Kesadaran gelisah sampai menurun dan koma.

f.   Terjadi gangguan involusi uterus.

g.  Lochia : berbau, bernanah serta kotor.

 

c.    Masalah cemas

 

kecemasan yaitu ketegangan, rasa tidak aman dan kekhawatiran yang timbul karena dirasakan akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan, tetapi sumbernya sebagian besar tidak diketahuinya. Rasa cemas sering timbul pada ibu masa nifas karena perubahan fisik dan emosi dan masih menyesuaikan diri dengan kehadiran bayi. Pada priode ini sering di sebut “masa krisis” karena memerlukan banyak prilaku, nilai dan peran. Tingkat kecemasan akan berbeda antara satu dengan yang lain. Bidan harus bersifat empati dalam memberikan support mental pada ibu untuk mengatasi kecemasan.

Gejala kecemasan seringkali timbul bersamaan dengan gejala depresi. Menifestasi dari kedua gangguan ini lebih lanjut sering timbul sebagai keluhan umum seperti : sukar tidur, merasa bersalah, kelelahan, sukar konsentrasi, hingga pikiran mau bunuh diri.

Sekitar 10% ibu baru mengalami depresi pasca melahirkan. Hal ini ditandai dengan perasaan putus asa, gelisah berat, atau keputusan yang menghalangi kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat terjadi setelah kelahiran kedua dan seterusnya, bukan hanya pada kelahiran  pertama.

Faktor yang dapat mempengaruhi timbulnya depresi, antara lain  :

·         Kelelahan setelah melahirkan, berubahnya pola tidur dan kurangnya istirahat seringkali menyebabkan ibu yang baru melahirkan belum kembali ke kondisi normal meskipun setelah berminggu-minggu dari saat melahirkan.

·         Kegalauan kebingungan dengan kelahiran bayi yang baru, perasaan tidak percaya diri dengan kemampuan diri untuk dapat merawat bayi yang baru sementara masih merasa tanggung jawab dengan semua pekerjaan yang ada.

·         Perasaan stress dari perubahan dalam pekerjaan maupun kerutinan dalam rumah tangga.

·         Perasaan kehilangan akan identitas diri, akan kemampuan diri, akan figure tubuh sebelum kehamilan, akan perasaan dapat mengontrol diri sebelum kehamilan, akan perasaan menjadi  kurang menarik.

·         Kurangnya waktu untuk diri sendiri, tidak dapatnya mengontrol dapat dilakukan waktu sebagaimana yang dapat dilakukan sebelum dan selama kehamilan, harus tinggal di dalam rumah dalam jangka waktu lama, juga kekurangan waktu pribadi dengan orang yang dicintai selain dari bayi yang baru lahir.

 

d.    Masalah perawatan perineum

Perineum yang dilalui seorang bayi umumnya mengalami peregangan, lebam, dan trauma. Akibat normalnya bisa terasa ringan, bisa juga tidak. Rasa sakit pada perineum akan semakin parah jika perineum robek atau disayat pisau bedah. Seperti semua luka baru, area episiotomi atau luka sayatan membutuhkan waktu untuk sembuh selama 7 hingga 10 hari. Rasa nyeri saja selama masa ini tidak menunjukan adanya infeksi, kecuali jika nyeri sangat parah.

Infeksi bisa terjadi, tetapi sangat kecil kemungkinan jika luka perineum dirawat dengan baik. Selama di rumah sakit Dokter akan memeriksa perineum setidaknya sekali sehari untuk memastikan tidak terjadi peradangan atau tanda infeksi lainnya. Dokter juga akan memberi instruksi bagaimana menjaga kebersihan perineum pasca lahir yang sangat penting untuk mencegah infeksi.

 Perawatan luka perineum bertujuan untuk mencegah infeksi, meningkatkan rasa nyaman dan mempercepat penyembuhan. Perawatan luka perineum dapat dilakukan dengan cara mencuci daerah genital dengan air dan sabun setiap kali habis BAK/BAB yang dimulai dengan mencuci bagian depan, baru kemudian daerah anus. Sebelum dan sesudahnya ibu dianjurkan untuk mencuci tangan. Pembalut hendaknya diganti minimal 2 kali sehari. Bila pembalut yang dipakai ibu bukan pembalut habis pakai, pembalut dapat dipakai kembali dengan dicuci, dijemur dibawah sinar matahari dan disetrika.

Parawatan perineum 10 hari :

1.    Ganti pembalut wanita yang bersih setiap 4-6 jam. Letakkan dengan baik sehingga tidak bergeser.

2.    Lepaskan pembalut dari muka ke belakang untuk menghindar penyebaran bakteri dari anus ke vagina.

3.    Alirkan atau bilas dengan air hangat atau cairan anti septic area perineum setelah buang air kecil atau besar. Keringkan dengan kain pembalut atau handuk dengan cara ditepuk-tepuk, selalu dari arah muka ke belakang.

4.    Jangan dipegang sampai area tersebut pulih.

5.    Rasa gatal pada area sekitar jaitan normal dan merupakan tanda penyembuhan. Namun, untuk meredakan rasa tidak enak, atasi dengan mandi berendam air hangat atau kompres dingin dengan kain pembalut yang telah didinginkan.

6.    Berbaring pada sisi tubuh, hindari berdiri atau duduk lama untuk mengurangi tekanan pada daerah tersebut.

7.      Lakukan latihan kegel sesering mungkin guna merangsang perdaran darah disekitar perineum dengan demikian, akan mempercepat penyembuhan dan memperbaiki otot-otot. Jangn terkejut jika anda tidak merasakan apa-apa saat pertama kali berlatih karena area tersebut akan kebal setelah persalinan dan pulih secara bertahap dalam beberapa minggu.

 

e.    Masalah Payudara

1.    Putting susu nyeri

Umumnya ibu akan merasa nyeri pada waktu awal menyusui. Perasaan sakit ini akan berkurang setelah ASI keluar. Bila posisi mulut bayi dan puting susu itu benar, perasaan nyeri akan segera hilang.

2.    Putting susu lecet

Putting susu terasa nyeri bila tidak ditangani dengan benar akan menjadi lecet. Umumnya menyusui akan menyakitkan dan kadang-kadang mengeluarkan darah.

Putting susu lecet dapat disebabkan oleh posisi menyusui yang salah, tapi dapat pula disebabkan oleh thrush (candidates) atau dermatitis.

3.    Payudara bengkak

Pada hari-hari pertama (sekitar 2-4 jam), payudara sering terasa penuh dan nyeri sering disebabkan bertambahnya aliran darah ke payudara bersamaan dengan ASI dan mulai diproduksi dalam jumlah banyak.

Penyebab bengkak:

1)  Posisi mulut bayi dan putting susu ibu salah

2)  Produksi ASI berlebihan

3)  Terlambat menyusui

4)  Mengeluarkan ASI yang jarang

5)  Waktu menyusui yang terbatas.

Perbedaan payudara penuh dan payudara bengkak :

1.  Payudara penuh :  rasa berat pada payudara, panas dan keras. Bila diperiksa ASI keluar, dan tidak ada demam

2.  Payudara bengkak :  payudara oedema, sakit, putting susu kencang, kulit mengkilat walau tidak merah, dan bias diperiksa/dihisap ASI tidak keluar. Badan biasa demam setelah 24 jam.

Untk mencegah maka diperlukan :  menyusui dini, perlekatan yang baik, menyusui “on demand”. Bayi harus sering lebih sering disusui. Apabila terlalu tegang, atau bayi tidak dapat menyusu sebaiknya ASI dikeluarkan dahulu, agar ketegangan menurun. Untuk meregang reflek oksitosin maka dilakukan :

1)    Kompres panas untuk mengurangi rasa sakit

2)    Ibu harus rileks

3)    Pijat leher dan punggung belakang (sejajar daerah payudara)

4)    Pijat ringan pada payudara yang bengkak (pijat pelan-pelan kearah tengah)

5)    Stimulasi payudara dan putting

6)    Kompres dingin pasca menyusui, untuk mengurangi oedema

7)    Pakailah BH yang sesuai

8)    Bila terlalu sakit dapat diberikan obat analgetik

 

4.    Mastritis atau Abses payudara

Mastritis adalah peradangan pada payudara. Payudara menjadi merah, bengkak kadang kala diikuti rasa nyeri dan panas, suhu tubuh meningkat. Didalam terasa ada masa padat (lump), dan diluarnya kulit menjadi merah. Kejadian ini terjadi pada masa nifas 1-3 minggu setelah persalinan diakibatkan oleh sumbatan saluran susu yang berlanjut. Keadaan ini disebabkan kurangnya ASI diisap/dikeluarkan atau pengisapan yang tidak efektif. Dapat juga karena kebiasaan menekan payudara dengan jari atau karena tekanan baju/BH.

Tindakan yang dilakukan :

1)    Kompres hangat/panas dan pemijatan

2)    Rangsangan oksitosin, dimulai pada payudara yang tidak sakit yaitu stimulasi putting susu, Pijat leher punggung. dll

3)    Pemberian antibiotic : Flucloxacilin atau erythromycin selama 7-10 hari

4)    Bila perlu bias diberikan istirahat total dan obat untuk penghilang rasa nyeri.

5)    Kalau terjadi abses sebaiknya tidak disusukan karena mungkin perlu tindakan bedah.

 

F.    Masalah ASI eksklusif

ASI merupakan makanan terbaik bagi bayi 0-6 bulan karena mengandung semua bahan yang diperlukan oleh bayi.

Namun di Indonesia hanya sekitar 8% saja ibu-ibu yang memberikan ASI eksklusif kepada bayinya sampai umur 6 bulan dan 4% bayi disusui ibunya dalam waktu satu jam partama setelah kelahirannya. Padahal  21.000 kematian bayi baru lahir usia dibawah 28 hari di Indonesia dapat dicegah melalui pemberian ASI pada satu jam pertama setelah lahir.

Dilema sebagai ibu yang bekerja akan muncul ketika seorang ibu harus tetap memberikan ASI (Air Susu Ibu) ekslusif  kepada anaknya, tetapi pada waktu yang bersamaan juga harus meninggalkan anaknya disaat sedang bekerja sehingga banyak wanita karier yang tidak memberikan ASI eksklusif. Selain itu kurangnya informasi tentang ASI menjadi salah satu faktor yang mendorong semakin sedikitnya ibu menyusui bayi bahkan memberikan ASI eksklusif.

 

G.   Masalah KB

Pemilihan kontrasepsi harus sudah dipertimbangkan pada masa nifas. Apabila hendak memakai kontrasepsi yang mengandung hormon, harus menggunakan obat yang tidak mengganggu produksi ASI. Pada ibu yang tidak menyusui kadar estrogen mulai meningkat kembali pada minggu kedua setelah melahirkan dan pada wanita yang menyusui peningkatan hormone estrogen tersebut lebih tinggi.

Sehingga pada wanita yang tidak  menyusui, ovulasi dan kembalinya siklus menstruasi akan terjadi lebih cepat dari pada wanita yang menyusui.

Namun demikian menyusui bukan merupakan metode kontrasepsi yang efektif. Menstruasi biasanya terjadi pada 12 minggu postpartum, sedang pada ibu yang menyusui dapat memperlambat datangnya siklus menstruasi.

Hubungan suami istri pada masa nifas tidak dianjurkan, masa nifas adalah masa pemulihan. Tubuh akan berusaha kembali keadaan sebelum hamil. Menjaga pola hidup sehat dapat membantu melewati masa transisi ini dengan nyaman. Peran suami dan keluarga juga merupakan faktor yang penting.

Idealnya pasangan harus menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun sebelum ibu hamil kembali. Setiap pasangan menentukan sendiri kapan dan bagaimana mereka ingin merencanakan tentang keluarganya. Namun petugas kesehatan dapat membantu merencanakan keluargannya dengan mengajarkan kepada mereka tentang cara mencegah kehamilan yang tidak diinginkan. Biasanya wanita tidak akan menghasilkan telur (ovulasi) sebelum ia mendapatkan lagi haidnya selama meneteki. Oleh karena itu, metode amenore laktasi dapat dipakai sebelum haid pertama kembali untuk mencegah terjadinya kehamilan baru. Resiko cara ini ialah 2% kehamilan.

Meskipun beberapa metode KB, hal-hal berikut sebaiknya dijelaskan dahulu kepada ibu:

·         Bagaimana metode ini dapat mencegah kehamilan dan efektifitasnya

·         Kelebihan / keuntungnnya.

·         Kekurangannya.

·         Efek samping.

·         Bagaimana menggunkan metode itu.

·         Kapan metode itu dapat mulai digunakan untuk wanita paska salin yang menyusui.

Jika seorang ibu / pasangan telah memilih metode KB tertentu, ada baiknnya untuk bertemu denganya lagi dalam 2 minggu untuk mengetahui apakah ada yang ingin ditanyakan oleh ibu / pasangan itu dan untuk melihat apakah metode tersebut bekerja dengan baik.

 

H.   Masalah Gizi

Dalam masa nifas ibu membutuhkan gizi yang cukup. Gizi pada ibu menyusui sangat erat kaitannya dengan produksi air susu, yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh kembang bayi. Kualitas dan jumlah makanan yang dikonsumsi ibu sangat berpengaruh pada jumlah ASI yang dihasilkan, ibu menyusui disarankan memperoleh tambahan zat makanan 800 Kkal yang digunakan untuk memproduksi ASI dan untuk aktifitas ibu itu sendiri
Sebuah teori, maternal depletion syndrome menyatakan bahwa status gizi ibu setelah peristiwa kehamilan dan persalinan, kemudian diikuti masa laktasi, tidak segera pulih dan ditambah lagi pemenuhan gizi yang kurang, jumlah paritas yang banyak dengan jarak kehamilan yang pendek, akan menyebabkan ibu mengalami drainage gizi. Akibatnya ibu akan berada dalam status gizi yang kurang dengan akibat lebih lanjut pada ibu dan anaknya. Oleh karena itu, ibu yang menyusui anaknya harus diberikan pengetahuan tentang gizi.

Bila status gizinya kurang, maka zat nutrisi yang terdapat pada ASI juga kurang, dan proses pertumbuhan serta pemeliharaan jaringan terutama untuk mengganti kerusakan sel-sel pada genetalia interna dan ekterna akibat proses kehamilan maupun persalinan juga mengalami gangguan, sehingga pengembalian alat-alat kandungan menjadi terlambat. Status gizi yang kurang pada ibu pasca salin, maka pertahanan tubuh akan jauh berkurang atau tidak ada sama sekali, sehingga sistem pertahanan pada dasar ligamentum latum yang terdiri atas kelompok infiltrate sel bulat, yang bermanfaat untuk mengadakan pertahanan terhadap penyerbuan kuman-kuman, serta menghilangkan jaringan-jaringan nekrotis tidak dapat berfungsi optimal. Keadaan ini akan memudahkan terjadinya infeksi nifas dan menghambat involusi uterus.

 

I.    Masalah Tanda Bahaya

1)    Terjadinya Infeksi Masa Nifas

Terjadinya infeksi masa nifas adalah sebagai berikut:

1.      Manipulasi penolong: terlalu sering melakukan pemeriksaan dalam, alat yang dipakai kurang suci hama.

2.      Infeksi yang didapat di rumah sakit (nosokomial).

3.      Hubungan seks menjelang persalinan.

4.      Sudah terdapat infeksi intrapartum: persalinan lama terlantar, ketuban pecah lebih dari enam jam, terdapat pusat infeksi dalam tubuh (lokal infeksi).

2). Keadaan abnormal pada rahim

Beberapa keadaan abnormal pada rahim adalah :

1. Sub involusi uteri.

Proses involusi rahim tidak berjalan sebagaimana mestinya, sehingga proses pengecilan rahim terhambat. Penyebab terjadinya sub involusi uteri adalah terjadinya infeksi pada endometrium, terdapat sisa plasenta dan selaputnya, terdapat bekuan darah, atau mioma uteri.

2. Pendarahan masa nifas sekunder.

Adalah pendarahan yang terjadi pada 24 jam pertama. Penyebabnya adalah terjadinya infeksi pada endometrium dan terdapat sisa plasenta dan selaputnya.

3. Flegmansia alba dolens.

Merupakan salah satu bentuk infeksi puerpuralis yang mengenai pembuluh darah vena femoralis. Gejala kliniknya adalah :

1.    Terjadi pembengkakan pada tungkai.

2.    Berwarna putih.

3.    Terasa sangat nyeri.

4.    Tampak bendungan pembuluh darah.

5.    Temperatur badan dapat meningkat.

3). Keadaan abnormal pada payudara

Beberapa keadaan abnormal yang mungkin terjadi adalah :

1. Bendungan ASI

Disebabkan oleh penyumbatan pada saluran ASI. Keluhan mamae bengkak, keras, dan terasa panas sampai suhu badan meningkat.

2. Mastitis dan Abses Mamae

Infeksi ini menimbulkan demam, nyeri lokal pada mamae, pemadatan mamae dan terjadi perubahan warna kulit mamae.

4). Keadaan abnormal pada psikologis

1. Psikologi Pada Masa Nifas

Perubahan emosi selama masa nifas memiliki berbagai bentuk dan variasi. Kondisi ini akan berangsur-angsur normal sampai pada minggu ke 12 setelah melahirkan.

Pada 0 – 3 hari setelah melahirkan, ibu nifas berada pada puncak kegelisahan setelah melahirkan karena rasa sakit pada saat melahirkan sangat terasa yang berakibat ibu sulit beristirahat, sehingga ibu mengalami kekurangan istirahat pada siang hari dan sulit tidur dimalam hari.

Pada 3 -10 hari setelah melahirkan, Postnatal blues biasanya muncul, biasanya disebut dengan 3th day blues. Tapi pada kenyataanya berdasarkan riset yang dilakukan paling banyak muncul pada hari ke lima. Postnatal blues adalah suatu kondisi dimana ibu memiliki perasaan khawatir yang berlebihan terhadap kondisinya dan kondisi bayinya sehingga ibu mudah panik dengan sedikit saja perubahan pada kondisi dirinya atau bayinya.

Pada 1 – 12 minggu setelah melahirkan, kondisi ibu mulai membaik dan menuju pada tahap normal. Pengembalian kondisi ibu ini sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya, misalnya perhatian dari anggota keluarga terdekat. Semakin baik perhatian yang diberikan maka semakin cepat emosi ibu kembali pada keadaan normal.

2. Depresi Pada Masa Nifas

Riset menunjukan 10% ibu mengalami depresi setelah melahirkan dan 10%-nya saja yang tidak mengalami perubahan emosi. Keadaan ini berlangsung antara 3-6 bulan bahkan pada beberapa kasus terjadi selama 1 tahun pertama kehidupan bayi.

Penyebab depresi terjadi karena reaksi terhadap rasa sakit yang muncul saat melahirkan dan karena sebab-sebab yang kompleks lainnya. Berdasarkan hasil riset yang dilakukan menunjukan faktor-faktor penyebab depresi adalah terhambatnya karir ibu karena harus melahirkan, kurangnya perhatian orang-orang terdekat terutama suami dan perubahan struktur keluarga karena hadirnya bayi, terutama pada ibu primipara.

 

J.    Masalah Senam

Umumnya, para ibu pasca melahirkan takut melakukan banyak gerakan. Sang ibu biasanya khawatir gerakan-gerakan yang dilakukannya akan menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Padahal, apabila ibu bersalin melakukan ambulasi dini, itu bisa memperlancar terjadinya proses involusi uteri (kembalinya rahim ke bentuk semula).

Salah satu aktivitas yang dianjurkan untuk dilakukan para ibu setelah persalinan adalah senam nifas. Senam ini dilakukan sejak hari pertama setelah melahirkan hingga hari kesepuluh. Dalam pelaksanannya, harus dilakukan secara bertahap, sistematis, dan kontinyu.

Tujuan senam nifas ini di antaranya memperbaiki sirkulasi darah, memperbaiki sikap tubuh setelah hamil dan melahirkan, memperbaiki tonus otot pelvis, memperbaiki regangan otot abdomen/ perut setelah hamil, memperbaiki regangan otot tungkai bawah, dan meningkatkan kesadaran untuk melakukan relaksasi otot-otot dasar panggul.

Program senam nifas dimulai dari tahap yang paling sederhana hingga yang sulit. Dimulai dengan mengulang tiap 5 gerakan. Setiap hari ditingkatkan sampai 10 kali. Adapun gerakan-gerakannya sebagai berikut:

·         Hari pertama, ambil nafas dalam-dalam, perut dikembungkan, kemudian napas dikeluarkan melalui mulut. Ini dilakukan dalam posisi tidur terlentang.

·         Hari kedua, tidur terlentang, kaki lurus, tangan direntangkan kemudian ditepukkan ke muka badan dengan sikap tangan lurus, dan kembali ke samping.

·         Hari ketiga, berbaring dengan posisi tangan di samping badan, angkat lutut dan pantat kemudian diturunkan kembali.

·         Hari keempat, tidur terlentang, lutut ditekuk, kepala diangkat sambil mengangkat pantat.

·         Hari kelima, tidur terlentang, kaki lurus, bersama-sama dengan mengangkat kepala, tangan kanan, menjangkau lutut kiri yang ditekuk, diulang sebaliknya.

·         Hari keenam, tidur terlentang, kaki lurus, kemudian lutut ditekuk ke arah perut 90o secara bergantian antara kaki kiri dan kaki kanan.

·         Hari ketujuh, tidur terlentang kaki lurus kemudian kaki dibuka sambil diputar ke arah luar secara bergantian.

·         Hari 8, 9, 10, tidur terlentang kaki lurus, kedua telapak tangan diletakkan di tengkuk kemudian bangun untuk duduk (sit up)

 

K.   Masalah Menyusui

1.    Sindrom ASI kurang

Sering kenyataannya ASI tidak benar-benar kurang. Tanda-tanda yang “mungkin saja” ASI benar-benar kurang antara lain :

1)    Bayi tidak puas setiap setelah menyusui, sering sekali menyusu dengan waktu yang sangat lama. Tapi juga terkadang bayi lebih cepat menyusu. Disangka produksinya berkurang padahal dikarenakan bayi telah pandai menyusu.

2)    Bayi sering menangis atau bayi menolak menyusu.

3)    Tinja bayi keras, keringat atau berwarna hijau.

4)    Payudara tidak membesar selama kehamilan (keadaan yang jarang), atau ASI tidak ‘datang’, pasca lahir.

Walaupun ada tanda-tanda tersebut diperiksa apakah tanda-tanda tersebut dapat dipercaya.

Tanda bahwa ASI benar-benar kurang, antara lain :

1)    BB (berat badan) bayi meningkat kurang dari rata-rata 500gram perbulan.

2)    BB lahir dalam waktu 2 minggu belum kembali.

3)    Ngompol rata-rata kurang dari 6 kali dalam 24 jam, cairan urin pekat, bau dan warna kuning.

Cara mengatasinya disesuaikan dengan penyebab, terutama dicari pada ke 4 kelompok factor penyebab :

1)    Faktor teknik menyusui, keadaan ini yang paling sering dijumpai meliputi : masalah frekuensi, perlekatan, penggunaan dot/botol dan lain-lain.

2)    Faktor psikologis, juga sering terjadi

3)    Faktor fisik ibu (jarang) meliputi KB, kontrasepsi, diuretic, hamil, merokok, kurang gizi.

4)    Sangat jarang adalah faktor kondisi bayi, misalnya penyakit, abnormalitas dan lain-lain.

Ibu dan bayi dapat saling membantu agar produksi ASI meningkat dan bayi terus memberikan isapan efektifnya. Pada keadaan-keadaan tertentu dimana produksi ASI memang tidak memadai maka perlu upaya yang lebih, misalnya pada relaksi, maka bila perlu dapat dilakukan pemberian ASI dengan suplementer yaitu dengan pipa nasogastrik atau pipa halus lainnya yang ditempelkan pada putting untuk diisap bayi dan ujung lainnya dihubungkan dengan ASI, atau formula.

2.    Ibu yang bekerja

Sering kali alasan pekerjaan membuat seorang ibu berhenti menyusui. Sebenarnya ada beberapa cara yang dapat dianjurkan pada ibu menyusui yang bekerja :

1)    Susuilah bayi sebelum ibu bekerja.

2)    ASI dikeluarkan untuk persediaan dirumah sebelum berangkat bekerja.

3)    Pengosongan payudara ditempat kerja setiap 3-4 jam.

4)    ASI dapat disimpan dilemari pendingin dan dapat diberikan pada bayi saat ibu bekerja dengan cangkir.

5)    Pada saat ibu dirumah sesering mungkin bayi disusui dan ganti jadwal menyusuinya sehingga banyak menyusui di malam hari.

6)    Keterampilan mengeluarkan ASI dan merubah jadwal menyusui sebaiknya telah mulai dipraktekkan sejak satu bulann sebelum kembali bekerja.

7)    Minum dan makan makanan yang bergizi dan cukup selama bekerja dan selama menyusui bayinya.

2.4  Merumuskan diagosa/Masalah potensial

Bidan harus dapat mendeteksi masalah yang mungkin timbul pada ibu dengan merumuskan masalah potensial. Masalah potensial belum terjadi tapi bidan harus sudah berfikir untuk melakukan antisipasi terhadap masalah potensial. Langkah ini bersifat antisipatif yang rasional dan merupakan hal yang penting dalam asuhan yang aman dan nyaman.

a.    Gangguan Perkemihan

Pada masa hamil, perubahan hormonal yaitu kadar steroid tinggi yang berperan meningkatkan fungsi ginjal. Begitu sebaliknya, pada pasca melahirkan kadar steroid menurun sehingga menyebabkan penurunan fungsi ginjal. Fungsi ginjal kembali normal dalam waktu satu bulan setelah wanita melahirkan. Urin dalam jumlah yang besar akan dihasilkan dalam waktu 12 – 36 jam sesudah melahirkan

Hal yang berkaitan dengan fungsi sistem perkemihan, antara lain:

1.    Hemostatis internal.

Tubuh, terdiri dari air dan unsur-unsur yang larut di dalamnya, dan 70% dari cairan tubuh terletak di dalam sel-sel, yang disebut dengan cairan intraselular. Cairan ekstraselular terbagi dalam plasma darah, dan langsung diberikan untuk sel-sel yang disebut cairan interstisial. Beberapa hal yang berkaitan dengan cairan tubuh antara lain edema dan dehidrasi. Edema adalah tertimbunnya cairan dalam jaringan akibat gangguan keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi adalah kekurangan cairan atau volume air yang terjadi pada tubuh karena pengeluaran berlebihan dan tidak diganti.

 

2.  Keseimbangan asam basa tubuh.

Keasaman dalam tubuh disebut PH. Batas normal PH cairan tubuh adalah 7,35-7,40. Bila PH >7,4 disebut alkalosis dan jika PH < 7,35 disebut asidosis.

3.  Pengeluaran sisa metabolism, racun dan zat toksin ginjal.

Zat toksin ginjal mengekskresi hasil akhir dari metabolisme protein yang mengandung nitrogen terutama urea, asam urat dan kreatinin.

Ibu post partum dianjurkan segera buang air kecil, agar tidak mengganggu proses involusi uteri dan ibu merasa nyaman. Namun demikian, pasca melahirkan ibu merasa sulit buang air kecil.Hal yang menyebabkan kesulitan buang air kecil pada ibu post partum, antara lain:

1.    Adanya odema trigonium yang menimbulkan obstruksi sehingga terjadi retensi urin.

2.    Diaforesis yaitu mekanisme tubuh untuk mengurangi cairan yang teretansi dalam tubuh, terjadi selama 2 hari setelah melahirkan.

3.    Depresi dari sfingter uretra oleh karena penekanan kepala janin dan spasme oleh iritasi muskulus sfingter ani selama persalinan, sehingga menyebabkan miksi.

Setelah plasenta dilahirkan, kadar hormon estrogen akan menurun, hilangnya peningkatan tekanan vena pada tingkat bawah, dan hilangnya peningkatan volume darah akibat kehamilan, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mengatasi kelebihan cairan. Keadaan ini disebut dengan diuresis pasca partum. Ureter yang berdilatasi akan kembali normal dalam tempo 6 minggu.

Kehilangan cairan melalui keringat dan peningkatan jumlah urin menyebabkan penurunan berat badan sekitar 2,5 kg selama masa pasca partum. Pengeluaran kelebihan cairan yang tertimbun selama hamil kadang-kadang disebut kebalikan metabolisme air pada masa hamil (reversal of the water metabolisme of pregnancy).

Rortveit dkk (2003) menyatakan bahwa resiko inkontinensia urine pada pasien dengan persalinan pervaginam sekitar 70% lebih tinggi dibandingkan resiko serupa pada persalinan dengan Sectio Caesar. Sepuluh persen pasien pasca persalinan menderita inkontinensia (biasanya stres inkontinensia) yang kadang-kadang menetap sampai beberapa minggu pasca persalinan. Untuk mempercepat penyembuhan keadaan ini dapat dilakukan latihan pada otot dasar panggul.

Bila wanita pasca persalinan tidak dapat berkemih dalam waktu 4 jam pasca persalinan mungkin ada masalah dan sebaiknya segera dipasang dower kateter selama 24 jam. Bila kemudian keluhan tak dapat berkemih dalam waktu 4 jam, lakukan kateterisasi dan bila jumlah residu > 200 ml maka kemungkinan ada gangguan proses urinasinya. Maka kateter tetap terpasang dan dibuka 4 jam kemudian , bila volume urine < 200 ml, kateter dibuka dan pasien diharapkan dapat berkemih seperti biasa.

b.    Gangguan BAB

Sebagian besar ibu takut untuk BAB karena nyeri perineum dan juga adanya penekanan waktu persalinan sehingga biasanya BAB tertunda 2-3 hari. Beberapa wanita mengalami konstipasi pada masa nifas, namun kebanyakan kasus sembuh secara spontan. Untuk membantu ibu mencegah konstipasi anjurkan ibu untuk diit tinggi makanan berserat dan buah-buahan, memperbanyak minum minimal 3 liter perhari.

Wanita yang menderita hemoroid selama kehamilan sering mengeluh bahwa mereka lebih merasakan nyeri pada masa postpartum. 1 dari 20 wanita mengalami hemoroid untuk pertama kali sewaktu melahirkan tetapi kebanyakan kasus akan hilang dalam waktu dua atau tiga minggu.

 

c.    Gangguan hubungan seksual.

Faktor-faktor yang mempengaruhi hubungan seksual pasca persalinan.
Kecemasan dan kelelahan mengurus bayi baru lahir sering kali membuat gairah bercinta pasangan suami istri (pasutri) surut, terutama pada wanita. Bila trauma dikelola dengan baik, kehidupan seks bisa kembali berjalan dengan baik seperti semula. Menurunnya gairah seksual disebabkan oleh trauma psikis maupun fisik. Ditinjau dari segi fisik, wanita mengalami perubahan sangat drastis di dalam tubuh. Mengandung dan melahirkan normal maupun caesar dapat menyebabkan trauma pada wanita.
Trauma fisik bisa terjadi saat melahirkan. Rasa sakit akibat pengguntingan bagian dalam vagina (episiotomi) untuk melancarkan jalan lahir untuk menghindari terjadinya perobekan yang berat. Tentu saja, tindakan ini membutuhkan waktu untuk penyembuhan. Sedangkan trauma psikis (kejiwaan) terjadi pada wanitausaimelahirkanyangbelum siap dan memahami segala urusan mengurus anak. Dari mulai merawat anak, merawat payudara yang sudah siap mengeluarkan susu, cara pemberian susu yang benar sampai urusan mengganti popok. Akibatnya, ibu merasa lelah, capek, dan menyebabkan gairah menurun dan enggan untuk berhubungan seksual. Ibu yang baru melahirkan kerap merasa cemas dengan keadaan tubuh tidak lagi menarik. Istri takut tidak bisa memproduksi ASI yang cukup banyak untuk kebutuhan bayi dan merasa cemas dengan kondisi kesehatan lainnya. Kecemasan yang dialami terkadang tidak ada penyebabnya dan inilah yang menjadi penghalang timbulnya hasrat untuk bercinta. Ketidakseimbangan hormon juga kerap dituding sebagai penyebab menurunnya hasrat seksual. Ketidakseimbangan hormon ini dapat mengakibatkan perubahan emosi yang tidak seimbang pula. Para ibu muda lebih mudah merasa kesal, malas, ingin marah. Ketidakseimbangan hormonal hanya mempengaruhi secara tidak langsung. Setelah masa-masa nifas, hormonal kembali bekerja secara normal.
Tiap wanita berbeda-beda kesiapannya. Namun secara medis, setelah tidak ada pendarahan lagi, bisa dipastikan ibu sudah siap berhubungan seks yakni setelah masa nifas yang biasanya berlangsung selama 30-40 hari. Masih dianggap wajar bila keengganan untuk berhubungan badan dengan pasangan, terjadi antara satu hingga tiga bulan setelah melahirkan.
Secara alami, sesudah melewati masa nifas kondisi organ reproduksi ibu sudah kembali normal. Oleh sebab itu, posisi hubungan seks seperti apa pun sudah bisa dilakukan. Kalaupun masih ada keluhan rasa sakit, lebih disebabkan proses pengembalian fungsi tubuh belum berlangsung sempurna seperti fungsi pembasahan vagina yang belum kembali seperti semula. Namun, bisa juga keluhan ini disebabkan kram otot, infeksi, atau luka yang masih dalam proses penyembuhan.

Gangguan seperti ini disebut dyspareunia atau rasa nyeri waktu sanggama. Pada kasus semacam ini ada beberapa kemungkinan yang bisa menjadi penyebab, yaitu :

1.   Terbentuknya jaringan baru pasca melahirkan karena proses penyembuhan luka guntingan jalan lahir masih sensitif sehingga kondisi alat reproduksi belum kembali seperti semula.

2.   Adanya infeksi, bisa disebabkan karena bakteri, virus, atau jamur.

3.   Adanya penyakit dalam kandungan (tumor, dll).

4.   Konsumsi jamu. Jamu-jamu ini mengandung zat-zat yang memiliki sifat astingents yang berakibat menghambat produksi cairan pelumas pada vagina saat seorang wanita terangsang seksual.

5.   Faktor psikologis yaitu kecemasan yang berlebihan turut berperan, seperti:

a.   Kurang siap secara mental untuk berhubungan seks (persepsi salah tentang seks, dll).

b.   Adanya trauma masa lalu (fisik, seks).

c.   Tipe kepribadian yang kurang fleksibel.

d.   Komunikasi suami istri kurang baik sehingga biasanya istri “malas” melakukan hubungan seks. Kurangnya foreplay-nya sehingga belum terjadi lubrikasi saat penetrasi penis. Jika foreplay dan lubrikasi sudah cukup namun masih nyeri juga, coba datang ke klinik yang melayani kesehatan sex wanita atau datang saja ke dokter kandungan yang wanita

Beberapa faktor lain diantaranya:

·         Beberapa wanita merasakan perannya sebagai orang tua sehingga timbul tekanan dan kebutuhan untuk menyesuaikan diri dengan perannya.

·         Karena adanya luka bekas episiotomi

·         Karena takut merusak keindahan tubuhnya

·         Kurangnya informasi tentang seks setelah melahirkan


Bahaya berhubungan seks pasca persalinan, berhubungan seksual selama masa nifas berbahaya apabila pada saat itu mulut rahim masih terbuka maka akan beresiko. Mudah terkena infeksi kuman yang hidup diluar akibat hubungan seksual ketika mulut rahim masih terbuka, bisa tersedot masuk kedalam rongga rahim dan menyebabkan infeksi.

Sudden Death Mati mendadak setelah berhubungan seksual bisa terjadi karena pergerakan teknis dalam hubungan seksual di vagina bisa menyebabkan udara masuk ke dalam rahim karena mulut rahim masih terbuka. Pada masa nifas banyak pembuluh darah dalam rahim yang masih terbuka dan terluka. Dalam kondisi ini pembuluh darah bisa menyedot udara yang masuk, dan membawanya ke jantung. Udara yang masuk kejantung dapat mengakibatkan kematian mendadak.

 

1). Penyebab Apati Seksual pasca salin.

a. Stress dan Traumatik.

Kelahiran bayi bisa menjadi pengalaman yang dapat menimbulkan traumatik terutama jika ibu belum dipersiapkan secukupnya. Banyak ibu yang mempunyan pengharapan yang tidak realistik tentang kelahiran. Misalnya : persalinan berlangsung lama atau persalinan yang memerlukan tindakan. Adanya luka episiolomi Hal ini bila penjahitan luka episiotomi dilakukan dengan tidak benar maka akan mengakibatkan rasa nyeri dan rasa tidak nyaman di saat ibu berjalan dan duduk. Hal ini bisa berlangsung berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan walaupun mungkin sayatan itu sendiri sudah sembuh.

d.  Keletihan
Bagi seorang ibu yang baru dan belum berpengalaman selain harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang biasa, ia juga harus menghadapi bayinya yang tidak mau tidur, sering menangis atau bermasalah dalam menyusu. Maka ibu tentu menjadi letih dan lemas sehingga gairah seks pun merosot.

e.    Depresi
Penyebabnya adalah keadaan tidak bersemangat akibat perasaan kelabu pasca persalinan. Perasaan ini biasanya terjadi dalam beberapa minggu setelah kelahiran bayi. Hal ini dapat terjadi depresi berat yang berupa : insomnia, anoreksia (hilangnya nafsu makan), halusinasi (membayangkan yang bukan-bukan) dan kecenderungan untuk menghilangkan kontak dengan kenyataan.

 

Keluhan yang timbul saat hubungan seksual pasca salin

·         Rasa Nyeri

Hal ini disebabkan fungsi pembasahan vagina yang belum kembali seperti semula, atau luka yang masih dalam proses penyembuhan.

·         Sensivitas berkurang

Karena persalinan normal merupakan trauma bagi vagina yaitu melebarnya otot-otot vagina.

 

Cara Mengatasi Masalah Yang Timbul Saat Hubungan Seksual :

·         Bila saat hubungan terasa sakit jangan takut berterusterang dengan suami

·         Saat berhubungan memakai pelumas / jelly

·         Saat berhubungan suami harus sabar dan hati-hati

·         Melakukan senam nifas atau olahraga ringan

Hypotermi, Hypertermi, Hypoglikemia

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

 

 

2.1 Hypotermia

 

2.1.1      Pengertian Hypotermia

 

Hypotermia adalah kondisi di mana tubuh kita mengalami penurunanan suhu inti (suhu organ dalam). Hipotermia bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di seluruh tubuh (Edema Generalisata), menghilangnya reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata (sarwono prawirohardjo, 2006).

 

                     Bayi lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh. Akibatnya dapat menimbulkan serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal dari hypotermi.

 

                     Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena kontrol suhunya belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hypotermia seringkali tidak terdeteksi oleh ibu/keluarga bayi atau penolong. Gejala hypotermia terjadi bila suhu tubuh (aksila) bayi turun dibawah 36°C,nilai normal 36,5°C – 37,5°C.

 

                     Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hypotermi sedang suhu 32°C – 36°C. Disebut hypotermi berat bila suhu tubuh < 32°C. Untuk mengukur suhu hypotermi diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat mengukur sampai 25°C. Disamping sebagai suatu gejala, hypotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.

 

 

 

                      Hypotermia dapat terjadi secara cepat pada bayi yang sangat kecil atau bayi yang diresusitasi (dipisahkan dari ibu), dalam kasus ini suhu dapat cepat turun < 35°C. Hypotermi menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah, yang mengakibatkan terjadinya metabolik anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen dalam tubuh, yang mengakibatkan hypoksemia dan berlanjut dengan kematian. 

 

Metode kehilangan panas :

 

a.    Radiasi : kehilangan panas dalam bentuk gelombang elektronik kepermukaan benda lain yang tidak bersentuhan langsung dengan tubuh.

 

b.    Evaporasi: kehilangan panas ke udara ruangan, dengan cara penguapan air dari permukaan kulit yang basah atau selaput mukosa.

 

c.    Konduksi : kehilangan panas dari molekul tubuh ke molekul suatu benda yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh. Terjadi jika neonatus ditempatkan pada permukaan yang dingin dan padat.

 

d.    Konveksi: kehilangan panas dari molekul tubuh atau kulit ke udara yang disebabkan perpindahan udara.

 

 

 

2.1.2           Faktor Resiko Hypotermia

 

1.    Umur : bayi baru lahir, orang tua.

 

2.    Paparan dingin di luar ruangan : olahraga, memakai baju tipis.

 

3.    Obat dan intoksikan : etanol, phenothiazin, barbiturate, anestesi, bloker neuromuscular.

 

4.    Hormon : hipoglikemia, hipotiroidisme, kekurangan adrenalin, hipopituitarisme.

 

5.    Neurologis : stroke, gangguan hipotalamus, Parkinson, dan Cedera sumsum tulang belakang.

 

6.    Multisistem : malnutrisi, sepsis, shock, gangguan hati dan ginjal.

 

7.    Luka bakar dan kelainan kulit eksfoliatif (mengelupas).

 

 

 

 

 

2.1.3        Tanda dan Gejala Hypotermia

 

A.     Gejala pada bayi bisa berupa :

 

1.         Bayi tampak mengantuk.

 

2.         Kulitnya pucat dan dingin.

 

3.         Bayi tidak mau minum/menetek.

 

4.         Bayi tampak lesu/mengantuk terus.

 

5.         Tubuh bayi teraba dingin.

 

6.         Lemah.

 

7.         Menggigil.

 

8.         Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan tubuh bayi mengeras (sklerema).

 

9.         Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36°C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.

 

10.      Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 32°C  – < 36°C).

 

Hipotermia bisa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah), asidosis metabolik (keasaman darah yang tinggi) dan kematian. Tubuh dengan cepat menggunakan energi agar tetap hangat, sehingga pada saat kedinginan bayi memerlukan lebih banyak oksigen. Karena itu, hipotermia bisa menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke jaringan.

 

 

 

B.     Tanda-tanda klinis hipotermia

 

a.    Hypotermia sedang (stress dingin) :

 

1.    Kaki teraba dingin.

 

2.    Kemampuan menghisap lemah.

 

3.    Tangisan lemah.

 

4.    Aktivitas berkurang, latergis.

 

5.    Suhu 32°C –37°C.

 

6.    Denyut jantung < 100 x/mnt.

 

7.    Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata

 

                                

 

b.    Hypotermia berat (cedera dingin):

 

1.    Sama dengan hipotermia sedang.

 

2.    Suhu tubuh < 32°C.

 

3.    Bibir dan kuku kebiruan.

 

4.    Pernafasan lambat.

 

5.    Pernafasan tidak teratur.

 

6.    Bunyi jantung lambat.

 

7.    Mungkin timbul hipoglikemi danasidosisi metabolik.

 

 

 

c.    Tanda-tanda stadium lanjut hypotermia :

 

1.    Muka, ujung kaki, dan tangan berwarna merah terang.

 

2.    Bagian tubuh lainnya pucat.

 

3.    Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama    pada punggung, kaki, dan tangan (sklerema).

 

 

 

Menurut tingkat keparahannya, gejala Klinis hypotermia dibagi menjadi 3 :

 

1.    Mild atau ringan.

 

·         Sistem saraf pusat : amnesia, apati, terganggunya persepsi halusinasi

 

·         Cardiovaskular : denyut nadi cepat lalu berangsur melambat, meningkatnya tekanandarah

 

·         Penafasan : nafas cepat lalu berangsur melambat

 

·         Saraf dan otot : tubuh mulai gemetar, menurunnya kemampuan koordinasi otot.

 

2.    Moderate atau sedang.

 

·         Sistem saraf pusat : penurunan kesadaran secara berangsur, pelebaran pupil.

 

·         Cardiovaskular : penurunan denyut nadi secara berangsur.

 

·         Pernafasan : hilangnya reflex jalan nafas(seperti batuk, bersin).

 

·         Saraf dan otot : menurunnya reflex, berkurangnya respon menggigil, mulai munculnya kaku tubuh akibat udara dingin.

 

3.    Severe atau parah.

 

·         Sistem saraf pusat : koma,menurunnya reflex mata(seperti mengedip).

 

·         Cardiovascular : penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya tekanandarah sistolik.

 

·         Pernafasan : menurunnya konsumsi oksigen.

 

·         Saraf dan otot : tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer.

 

 

 

 

 

2.1.4        Pencegahan Hypotermi

 

1.    Membaringkan bayi dalam ruangan suhu > 35˚C bersama ibunya.

 

2.    Mendekap bayi dengan lekatan kulit ke kulit sesering mungkin.

 

3.    Menunda memandikan bayi sampai dengan 6-24 jam.

 

4.    Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi. Jika bayi harusdibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun pengobatan, maka bayi harus ditempatkan dibawah cahaya penghangat.

 

5.    Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru lahir harus tetap berada dalamkeadaan hangat.

 

6.    Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari hilangnya panas tubuh.

 

7.    Menimbang berat badan terselimuti, kurangi berat selimut.

 

8.    Menjaga bayi tetap hangat selam pemeriksaan, buka selimut bayi sebagian-sebagian.

 

 

 

2.1.5       Penatalaksanaan Hypotermia Pada BBL

 

1.    Hypotermia sedang

 

·         Ganti pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian yang hangat, memakai topi dan selimuti dengan selimut hangat.

 

·         Bila ada ibu hangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit (perawatan bayi lekat).

 

·         Bila ibu tidak ada:

 

       Hangatkan kembali bayi dengan alat pemancar panas. gunakan inkubator dan ruangan hangat.

 

       Periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan sesuaikan pengatur suhu.

 

       Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi yang lebih sering di ubah.

 

·         Anjurkan ibu untuk menyusui bayi lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan susu peras.

 

·         Minta ibu untuk mengawasi tanda kegawatdaruratan (misal gangguan nafas, kejang, tidak sadar) dan segera mencari pertolongan.

 

·         Periksa kadar glukosa darah, bila < 45 mg/dL (tangani hypoglikemia).

 

·         Periksa suhu bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5°C/jam, berarti usaha menghangatkan bayi berhasil. Lanjutkan periksa suhu tiap 2 jam.

 

·         Bila suhu tidak naik atau terlalu pelan, kurang 0,5°C/jam, cari tanda sepsis.

 

2.    Hypotermia berat

 

·         Segera hangatkan bayi di bawah pemancar panas yang telah dinyalakan sebelumnya. Gunakan inkubator atau ruangan hangat.

 

·         Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah.

 

·         Bila bayi dengan gangguan nafas (frekuensi nafas > 60 atau < 30 x/mnt, tarikan dinding dada, merintih saat ekspirasi).

 

·         Beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan pipa infus tetap terpasang dibawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan.

 

·         Nilai tanda kegawatan pada bayi.

 

·         Ambil sempel darah dan beri antibiotika sesuai dengan yang disebutkan dalam penanganan kemungkinan sepsis.

 

          Prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia, hilangnya kalori berdampak dengan turunnya berat badan.

 

 

 

2.2  Hypertermia

 

2.2.1        Pengertian Hypertermia

 

          Hypertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus  > 37,5°C bila mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengaruhi oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik)(sarwono prawirohardjo, 2006). Perpindahan panas karena lingkungan yang terlalu panas yang dapat mengakibatkan hypertermi sehingga berbahaya bagi bayi baru lahir. 

 

Sengatan panas (heat stroke) per definisi adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40°Cdisertai kulit panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh pajanan panas lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik yang berat (Prawirohardjo, sarwono. 2002). Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas atau terlalu banyak pakaian dan selimut.

 

Terapi hypertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan jaringan normal/sehat jika suhunya tidak melebihi 43,8°C. Tetapi perbedaan karakter jaringan dapat menimbulkan perbedaan suhu atau efek samping pada jaringan tubuh yang berbeda-beda

 

2.2.2          Faktor Resiko Hypertermia

 

1.     Suhu lingkungan.

 

2.     Dehidrasi.

 

3.     Perdarahan intrakranial.

 

4.     Infeksi.

 

 

 

2.2.3          Tanda dan Gejala Hypertermia  

 

  Tanda dan gejala hypertermia pada bayi baru lahiradalah:

 

1.    Suhu tubuh bayi > 37,5°C.

 

2.    Frekuensi pernafasan bayi > 60x/mnt.

 

3.    Tanda-tanda dehidrasi, yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang, banyaknya air kemih berkurang, perdarahan intrakranial, heat stroke dan kematian.

 

4.    Kulit hangat telihat kemerahan atau merah muda pada awalnya dan kemudian terlihat pucat.

 

5.    Ketidakmampuan neonatus untuk mengeluarkan keringat.

 

6.    Meningkatnya laju metabolik, iritabel/rewel, takikardia dan takipnea.

 

 

 

2.2.4          Penatalaksanaan Hypertermia BBL

 

1.        Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar (26°C –28°C).

 

2.        Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu.

 

3.        Periksa suhu aksila bayi setiap satu jam sampai suhu tubuh dalam batas normal.

 

4.        Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normal (jangan menggunakan air es).

 

5.        Bila suhu sangat tinggi (>39°C), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15 menit dalam air suhu 4°C lebih rendah dari suhu tubuh bayi.jangan menggunakan air dingin atau air yang suhunya lebih rendah dari 4°C dibawah suhu bayi.

 

6.        Berikanlah cairan dextrose : NaCl = 1:4 secara intravena sampai dehidrasi teratasi.

 

7.        Berikan antibiotika apabila ada infeksi.

 

                                                                               

 

2.2.5          Manajemen Lanjutan Suhu Lebih Dari 37,5°C

 

1.    Yakinkan bayi mendapat masukan cukup cairan:

 

·         Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya.

 

·         Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan salah satu alternatif cara pemberian minum.

 

·         Bila terdapat tanda dehidrasi (mata atau ubun-ubun besar cekung, elastisitas kulit turun, lidah dan membran mukosa kering), tangani dehidrasi.

 

·         Periksa kadar glukose darah, bila < 45mg/dl (2,6 mmol/L) tangani hypoglikemia.

 

·         Cari tanda sepsis, sekarang dan ulangi lagi bila suhu telah mencapai batas normal.

 

·         Setelah suhu bayi normal, lakukan perawatan lanjutan dan pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu tubuh bayi setiap 3 jam.

 

·         Bila suhu tetap dalam batas normal, dan bayi dapat minum dengan baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan. Nasihati ibu cara menghangatkan bayi di rumah dan melindungi dari pancaran panas yang berlebihan.

 

 

 

1.3       Hypoglikemia (kadar glukose darah rendah)

 

2.3.1          Pengertian Hypoglikemia

 

          Hypoglikemi adalah konsentrasi glukose darah di bawah 40mg/100ml atau keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L) (Rosa M Sacharin, 1986). Hypoglikemi merupakan keadaan yang serius dan keadaan semakin gawat jika anak semakin muda.

 

Sel otak tidak mampu hidup jika kekurangan glukose. Hypoglikemi dapat terjadi berkaitan dengan banyak penyakit, misalnya pada neonatus dengan ibu diabetes dan mengalami Hyperglikemi in utero, atau sebagai komplikasi cidera dingin. Selama masa menggigil simpanan glikogen tubuh tidak mencukupi, tetapi jika dihangatkan terjadi peningkatan kebutuhan glikogen. Simpanan glikogen menurun dan cadangan tidak dapat memenuhi kebutuhan pada pemanasan.

 

 

 

2.3.2          Patofisiologi

 

1.    Hypoglikemia sering terjadi pada  BBLR, karena cadangan glukosa rendah.

 

2.    Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi hypoglikemi.

 

3.    Hypoglikemia dapat menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.

 

4.    Kejadian hypoglikemia lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes.

 

5.    Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.

 

6.    Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya  pada asfiksia, hypotermi, hypertermi, gangguan pernapasan.

 

 

 

2.3.3                Faktor Resiko Hypoglikemia Pada BBL

 

1.    Bayi dari ibu dengan diabetes (IDM).

 

2.    Neonatus yang besar untuk masa kehamilan (BMK).

 

3.    Neonatus yang kecil untuk masa kehamilan (KMK).

 

4.    Bayi prematur dan lebih bulan.

 

5.    Neonatus sakit / stres (syndrom gawat nafas,hypotermia).

 

6.    Neonatus puasa.

 

7.    Neonatus dengan polisitemia.

 

8.    Neonatus dengan eritroblastosis.

 

9.           Obat – obatan yang dikonsumsi ibu misalnya: steroid, beta simpatomimetik dan beta blocker.

 

 

 

2.3.4       Type Hypoglikemi

 

Digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:

 

1.         Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga terjadi hiperinsulin.

 

2.         Hypoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan glikogen.

 

3.         Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

 

4.         Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau metabolisme insulin terganggu.

 

 

 

2.3.5       Penyebab dan Mekanisme Hypoglikemia

 

1.         Berkurangnya persediaan dan menurunnya produksi glukosa.

 

2.         Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulinisme).

 

3.         Kedua mekanisme tersebut.

 

4.         Lain – lain :

 

a.     Berkurangnya simpanan glukosa dan menurunkan produksi glukosa, neonatus yang mempunyai resiko dengan keadaan ini adalah :

 

·         PJT atau KMK

 

·         Bayi prematur atau lebih bulan

 

·         Neonatus yang mengalami penundaan pemberian asupan

 

·         Neonatus yng menderita asfiksia perinatal

 

·         Neonatus dengan hypotermia dan atau stres dingin

 

b.     Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulinisme), neonatus yang beresiko dengan keadaan ini adalah :

 

·         IDM – BMK (besar masa kehamilan)

 

·         Neonatus yang menderita eritroblastosis fetalis (isoimunisasi RH-berat)

 

·         Neonatus dengan syndroma beckwith-wiedemann

 

·         Neonatus dengan nesidioblastosis atau adenoma pankreatik

 

c.      Kedua mekanisme telah disebutkan diatas.

 

d.     Lain – lain :

 

·         Insufisiensi adrenal

 

·         Sepsis

 

·         Penyakit penyimpanan glikogen (glycogen storage)

 

·         Transfusi tukar

 

·         Penyakit jantung kongenital – hipopituitarisme kongenital

 

·         Obat untuk ibu: steroid, beta blocker

 

 

 

2.3.6       Tanda dan Gejala

 

                 Kasus bisa menunjukan gejala ataupun tidak. Kecurigaan tinggi harus selalu diterapkan dan selalu antisipasi hypoglikemia pada neonatus dengan faktor resiko. Tanda dan gejala hypoglokemia pada bayi baru lahir  adalah :

 

1.     Tidak tenang, gerakan tidak beraturan (Jitteriness).

 

2.     Sianosis.

 

3.      Kejang atau tremor.

 

4.     Letargi dan menyusui yang buruk.

 

5.      Apnea.

 

6.     Tangisan yang lemah atau bernada tinggi.

 

7.     Hipotermia.

 

8.     RDS

 

 

 

2.3.7       Diagnosis Hypoglikemia Pada Neonatus

 

1.         Untuk mencegah abnormalitas perkembangan syaraf, identifikasi dan pengobatan tepat waktu untuk hypoglikemia adalah sangat penting.

 

2.         Pemantauan glukosa ditempat tidur adalah tindakan tepat untuk penapisan dan deteksi awal.

 

3.         Hypoglikemia harus dikonfirmasi oleh nilai serum dari laboratorium jika memungkinkan.

 

 

 

 

 

2.3.8       Penatalaksanaan Hypoglikemia

 

1.         Penatalaksanaan hypoglikemia pada bayi Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari pertama :

 

·         Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam.

 

·         Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali pemeriksaano .

 

·         Kadar glukosa ≤  45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia.

 

·         Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia selesai .

 

2.         Glukose darah < 25 mg/dl (1,1 mmol/L) atau terdapat tanda hypoglikemia:

 

·         Pasang jalur IV jika belum terpasang.

 

·               Berikan glukose 10% 2 ml/kg secara IV bolus dalam 5 menit. Jika jalur IV tidak dapat dipasang dengan cepat, berikan larutan glukose melalui pipa lambung dengan dosis yang sama.

 

·               Periksa kadar glukose darah 1 jam setelah bolus glukose dan kemudian tiap 3 jam:

 

       Jika kadar glukose darah masih kurang 25 mg/dl (1,1 mmol/L), ulangi pemberian bolus glukose seperti tersebut di atas dan di lanjutkan pemberian infus.

 

       Bila kadar glukose darah 45 mg/dl (2,6 mmol/L) atau lebih dalam dua kali pemeriksaan berturut-turut, ikuti petunjuk tentang frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah kembali normal.

 

·               Anjurkan ibu untuk menyusui. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras.

 

·               Bila kemampuan minum bayi meningkat turunkan pemberian cairan infus setiap hari secara bertahap. Jangan menghentikan infus glukose secara tiba-tiba.

 

3.         Glukose darah 25 mg/dl (1,1 mmol/L) – 45 mg/dl (2,6 mmol/L) tanpa tanda hipoglikemia:

 

·               Anjurkan ibu menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusui, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.

 

·               Pantau tanda hypoglikemia dan bila dijumpai tanda tersebut, tangani seperti tersebut diatas.

 

·               Periksa kadar glukose darah dalam 3 jam sebelum pemberian minum berikutnya:

 

       Jika kadar glukose darah < 25 mg/dl (1,1 mmol/L) atau terdapat tanda hypoglikemia, tangani seperti tersebut diatas.

 

       Jika kadar glukase darah masih antara 25 – 45 mg/dl (1,1 – 2,6 mmol/L), naikkan frekuensi pemberian minum ASI atau naikkan volume pemberian minum dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.

 

       Jika kadar glukose darah 45 mg/dl (2,6 mmol/L) atau lebih lihat tentang frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah dibawah ini.

 

4.         Frekuensi pemeriksaan glukose darah setelah kadar glukose darah normal

 

·               Jika bayi mendapatkan cairan IV, untuk alasan apapun, lanjutkan pemeriksaan kadar glukose darah setiap 12 jam selama bayi masih memerlukan infus. Jika kapan saja kadar glukose darah turun, tangani seperti di atas.

 

·               Jika bayi sudah tidak lagi mendapat infus cairan IV, periksa kadar glukose darah setiap 12 jam sebanyak 2 kali pemeriksaan:

 

       jika kapan saja kadar glukose darah turun, tangani seperti tersebut diatas.

 

       Jika kadar glukose darah tetap normal selama waktu tersebut, maka pengukuran dihentikan.

 

Pada timbul dibetes mellitus ada rasa haus, penurunan berat badan, banyak kencing, lesu dan mengompol waktu malam. Gejala – gejala ini tampak selama beberapa minggu. Ketoasidosis yang nampak pada anak harus diperlakukan sebagai keadaan gawat dan anak harus dirawat dirumah sakit.

 

Insulin komponen tunggal berisi porsin murni (misalnya Actrapid MC atau Leo Neutral) diberikan melalui infus pelan menggunakan pompa infus yang memberikan 2,5 atau 5 unit perjam secara teratur tergantung usia anak. NaCl 0,9 % diberikan secara intravena sampai gula darah mendekati harga normal (11 mmo1/1) kemudian diganti dengan NaCl 0,45 % ditambah Dekstrosa 5 %. Natrium bikarbonat dan garam kalium ditambahkan bila perlu.

 

Pada penyembuhan secara bertahap diberikan diet yang sesuai tergantung usia anak. Insulin diberikan sesuai hasil pemeriksaan air kencing sebelum makan. Dalam waktu singkat anak makan seperti biasa dan dapat dimulai dengan insulin “ long acting “ sebagai pengobatan pemeliharaan.