Caput Suksedanum, Cephal Hematoma, Trauma Pada Flexus Brachialis, Fraktur Klavikula dan Fraktur Humerus

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Perlukaan Pada Bayi Baru Lahir

Proses kelahiran merupakan kombinasi dari kompresi, kontraksi, torsi dan traksi. Jika janin besar, adanya kelainan letak atau imaturitas neurologis, proses kelahiran dapat menimbulkan kerusakan jaringan, edema, perdarahan, atau fraktur pada bayi baru lahir. Persalinan dengan alat akan meningkatkan kejadian trauma lahir. Pada kondisi tertentu, bedah sesar dapat merupakan suatu alternative, meskipun tidak menjamin kelahiran yang bebas trauma. Faktor predisposisi terjadinya trauma lahir antara lain primigravida, disproporsi sefalopelvik (ibu pendek, kelainan rongga panggul), persalinan yang berlangsung terlalu lama atau cepat, oligohidramnion, presentasi abnormal (sungsang), ekstraksi forceps atau vakum (midcapity), versi dan ekstraksi, BBLR, makrosomia, ukuran kepala janin besar.

   

2.2       Caput Suksedanum

2.2.1    Pengertian Caput Suksedanum

Caput suksedaneum adalah kelainan akibat sekunder dari tekanan uterus atau dinding vagina pada kepala bayi sebatas caput. Keadaan ini dapat pula terjadi pada kelahiran spontan dan biasanya menghilang dalam 2-4 hari setelah lahir. Tidak diperlukan tindakan dan tidak ada gejala sisa yang dilaporkan (Sarwono Prawirohardjo, 2007).

Kejadian caput succedaneum pada bayi sendiri adalah benjolan pada kepala bayi akibat tekanan uterus atau dinding vagina dan juga pada persalinan dengan tindakan vakum ekstraksi (Abdul Bari Saifuddin, 2001).

Caput suksedaneum ini ditemukan biasanya pada presentasi kepala, sesuai dengan posisi bagian yang bersangkutan. Pada bagian tersebut terjadi oedema sebagai akibat pengeluaran serum dari pembuluh darah. Caput suksedaneum tidak memerlukan pengobatan khusus dan biasanya menghilang setelah 2-5 hari (Sarwono, 2006).

 

2.2.2    Gejala Caput Suksedanum

Caput succedaneum muncul sebagai pembengkakan kulit kepala yang memanjang di garis tengah dan atas garis jahitan dan berhubungan dengan kepala pencetakan.

Caput Succedaneum adalah benjolan yang membulat disebabkan kepala tertekan leher rahim yang saat itu belum membuka penuh yang akan menghilang dalam waktu satu dua hari.

 

2.2.3    Patofisiologi Caput Suksedanum

Kelainan ini timbul karena tekanan yang keras pada kepala ketika memasuki jalan lahir sehingga terjadi bendungan sirkulasi kapiler dan limfe disertai pengeluaran cairan tubuh ke jaringan extravasa. Benjolan caput ini berisi cairan serum. Benjolan dapat terjadi sebagai akibat bertumpang tindihnya tulang kepala di daerah sutura pada suatu proses kelahiran sebagai salah satu upaya bayi untuk mengecilkan lingkaran kepalanya agar dapat melalui jalan lahir. Umumnya moulage ini ditemukan pada sutura sagitalis dan terlihat segera setelah bayi lahir. Moulage ini umumnya jelas terlihat pada bayi premature dan akan hilang sendiri dalam satu sampai dua hari.

 

2.2.4    Faktor Predisposisi Caput Suksedanum

·         Persalinan dengan partus lama.

·         Partus dengan tindakan.

·         Sekunder dari tekanan uterus atau dinding vagina.

 

2.2.5    Penanganan dan Pencegahan Caput Suksedanum

·         Bayi dirawat seperti pada perawatan bayi normal.

·         Observasi keadaan umum bayi.

·         Pemberian ASI adekuat.

·         Cegah terjadinya infeksi.

·         Untuk penanganan caput succedanaum tidak ada penanganan khusus karena dapat menghilang dengan sendirinya.

·         Dengan menggendong bayi secara terus menerus agar kelainan pada bayi dapat disembuhkan.

 

 

 

 

2.3       Cephal Hematoma

2.3.1    Pengertian Cephal Hematoma

Cephal hematoma adalah subperiosteal akibat kerusakan jaringan periosteum karena tarikan atau tekanan jalan lahir, dan tidak pernah melampaui batas sutura garis tengah. Pemeriksaan x-ray tengkorak dilakukan, bila dicurigai ada nya faktur (mendekati hampir 5% dari seluruh cephalhematoma). Kelainan ini agak lama menghilang (1-3 bulan). Pada gangguan yang luas dapat menimbulkan anemia dan hiperbilirubinemia. Perlu pemantauan hemoglobin, hematokrik, dan bilirubin. Aspirasi darah dengan jarum tidak perlu di lakukan. (Sarwono Prawirohardjo,2007).

Kelainan ini disebabkan oleh perdarahan subperiostal tulang tengkorak dan terbatas tegas pada tulang yang bersangkutan, tidak melampaui sutura-sutura sekitarnya. Tulang tengkorak yang sering terkena ialah tulang temporal atau parietal. Ditemukan pada 0,5-2% dari kelahiran hidup. Kelainan dapat terjadi pada persalinan biasa, tetapi lebih sering pada persalinan lama atau persalinan yang diakhiri dengan alat, seperti ekstra cunam atau ekstraktor vakum. (Sarwono, 2006).

 

2.3.2    Gejala Cephal Hematoma

Gejala lanjut yang mungkin terjadi ialah anemia dan hiperbilirubinemia. Kadang-kadang cephalematoma disertai pula dengan fraktur tulang tengkorak dibawahnya atau perdarahan intracranial (Sarwono, 2006).

Bila tidak ditemukan gejala lanjut, cephalematoma tidak memerlukan perawatan khusus. Kelainan ini dapat menghilang dengan sendirinya setelah 2-12 minggu. Pada kelainan yang agak luas, penyembuhan kadang-kadang disertai klasifikasi (Sarwono, 2006).

 

2.3.3    Faktor Predisposisi Cephal Hematoma

Tekanan jalan lahir yang terlalu lama pada kepala saat persalinan. Moulage terlalu keras. Partus dengan tindakan seperti forcep, vacum ekstraksi.

 

 

 

 

2.3.4    Penanganan Cephal Hematoma

Bila tidak ditemukan gejala lanjut, cephal hematoma tidak memerlukan perawatan khusus. Kelainan ini dapat menghilang dengan sendirinya setelah 2-12 minggu. Pada kelainan yang agak luas, penyembuhan kadang-kadang disertai kalsifikasi.

Cefalhematoma merupakan perdarahan subperiosteum. Cefalhematoma terjadi sangat lambat, sehingga tidak nampak adanya edema dan eritema pada kulit kepala. Cefalhematoma dapat sembuh dalam waktu 2 minggu hingga 3 bulan, tergantung pada ukuran perdarahannya.

Pada neonatus dengan sefalhematoma tidak diperlukan pengobatan, namun perlu dilakukan fototerapi untuk mengatasi hiperbilirubinemia. Tindakan insisi dan drainase merupakan kontraindikasi karena dimungkinkan adanya risiko infeksi. Kejadian sefalhematoma dapat disertai fraktur tengkorak, koagulopati dan perdarahan intrakranial.

 

2.4       Trauma Pada Flexus Brachialis

2.4.1    Penyebab Trauma Flexus Brachialis

Kelainan-kelainan ini timbul akibat tarikan yang kuat didaerah leher pada saat lahirnya bayi, sehingga terjadi kerusakan pada fleksus brachialis. Hal ini ditemukan pada persalinan letak sungsang apabila dilakukan traksi yang kuat dalam usaha melahirkan kepala bayi. Pada persalinan presentasi-kepala, kelainan dapat terjadi pada janin dengan bahu lebar. Disini kadang-kadang dilakukan tarikan pada kepala agak kuat ke belakang untuk melahirkan bahu depan (Sarwono, 2007).

Fleksus brakialis dapat menyebabkan paralisis lengan atas dengan atau tanpa paralisis lengan bawah atau tangan, atau lebih lazim paralisis dapat terjadi pada seluruh lengan. Jejas pleksus brakialis sering terjadi pada bayi makrosomik dan pada penarikan lateral dipaksakan pada kepala dan leher selama persalinan bahu pada presentasi verteks atau bila lengan diekstensikan berlebihan diatas kepala pada presentasi bokong serta adanya penarikan berlebihan pada bahu.

Trauma pleksus brakialis dapat mengakibatkan paralisis Erb-Duchenne dan paralisis Klumpke. Bentuk paralisis tersebut tergantung pada saraf servikalis yang mengalami trauma (Sarwono, 2007).

 

 

 

2.4.2    Penanganan dan Pencegahan Flexus Brachialis

Pengobatan pada trauma pleksus brakialis terdiri atas imobilisasi parsial dan penempatan posisi secara tepat untuk mencegah perkembangan kontraktur.

Penanggulangan dengan jalan meletakan lengan atas dengan posisi abduksi 90º dan putaran keluar. Siku berada dalam pleksi 90º disertai supinasi lengan bawah dengan ekstensi pergelangan dan telapak tangan menghadap kedepan. Posisi ini dipertahankan beberapa waktu. Penyembuhan biasanya terjadi setelah beberapa hari, kadang-kadang sampai 3-6 bulan (Sarwono, 2007).

 

2.5       Fraktur Klavikula dan Fraktur Humerus

2.5.1    Pengertian Fraktur Klavikula

Fraktur klavikula (tulang kolar) merupakan cedera yang sering terjadi akibat jatuh atau hantaman langsung ke bahu. Lebih dari 80% fraktur ini terjadi pada sepertiga tengah atau proksimal klavikula. Pada bayi terjadi apabila terdapat kesulitan mengeluarkan bahu pada persalinan. Biasanya ditemukan pada kelahiran letak kepala yang mengalami kesukaran pada waktu melahirkan bahu. Serta pada lahir letak sungsang dengan tangan yang menjungkit keatas. Dapat di diagnosa dengan palpasi dan pemeriksaan radiologi.

 

2.5.2    Tanda Fraktur Klavikula

Klavikula membantu mengangkat bahu ke atas, ke luar, dan ke belakang thorax. Maka bila klavikula patah, pasien akan terlihat dalam posisi melindungi-bahu jatuh ke bawah dan mengimobilisasi lengan untuk menghindari gerakan bahu. Gerakan tangan kiri dan kanan tidak sama, refleks moro asimetris,gerakan tangan pasif, bayi tampak kesakitan saat digerakkan, fraktur klavikula sering disertai paralisis nervus brakhialis yang mengakibatkan palsi lengan.

 

2.5.3    Penanganan Fraktur Klavikula

Tujuan penanganan adalah menjaga bahu tetap dalam posisi normalnya dengan cara reduksi tertutup dan imobilisasi. Modifikasi spika bahu (gips klavikula) atau balutan berbentuk angka delapan atau strap klavikula dapat digunakan untuk mereduksi fraktur ini, menarik bahu ke belakang, dan mempertahankan dalam posisi ini. Bila dipergunakan strap klavikula, ketiak harus diberi bantalan yang memadai untuk mencegah cedera kompresi terhadap pleksus brakhialis dan arteri aksilaris. Peredaran darah dan saraf kedua lengan harus dipantau. Fraktur 1/3 distal klavikula tanpa pergeseran dan terpotongnya ligamen dapat ditangani dengan sling dan pembatasan gerakan lengan. Bila fraktur 1/3 distal disertai dengan terputusnya ligamen korakoklavikular, akan terjadi pergeseran, yang harus ditangani dengan reduksi terbuka dan fiksasiinterna. Penanganan nya dengan cara:

1.      Imobilisasi lengan untuk mengurangi rasa sakit.

2.      Imobilisasi dalam posisi abduksi 60° dan fleksi 90° dari siku yang terkena.

3.      Terangkan kepada ibu bahwa fraktur akan sembuh secara spontan, biasanya tanpa gejala sisa, dan akan teraba benjolan keras ( kalus ) didaerah tulang yang patah pada umur 2 atau 3 minggu → proses penyembuhan normal.

4.      Nasehati ibu untuk kembali  5 hari  kemudian untuk ganti pembalut.

2.5.4    Pengertian Fraktur Humerus

Fraktur suprakondiler humerus: fraktur sepertiga distal humerus tepat proksimal troklea dan capitulum humeri. Garis fraktur berjalan melalui apeks coronoid dan fossa olecranon, biasanya fraktur transversal. Merupakan fraktur yang sering terjadi pada anak-anak. Pada orang dewasa, garis fraktur terletak sedikit lebih proksimal daripada fraktur suprakondiler pada anak dengan garis fraktur kominutif, spiral disertai angulasi. Fraktur humerus terjadi karena kesalahan melahirkan lengan pada:

·         Letak kepala

·         Letak sungsang

·         Letak lintang

 

2.5.5    Tanda dan Gejala Fraktur Humerus

Biasanya fraktur humerus dapat didiagnosis dengan palpasi dan foto rontgen. Dan ditandai dengan :

1.      Sisi yang terkena tidak dapat digerakkan

2.      Reflek moro menghilang

3.      Prognosis penderita sangat baik dengan dilakukannya perawatan imobilisasin 2-4 minggu

 

2.5.6    Penanganan Fraktur Humerus

Penanganan fraktur humerus yaitu dengan:

1.      Beri bantalan kapas atau kasa antara lengan yang terkena dan dada dari ketiak sampai siku.

2.      Balut lengan atas sampai ke dada dengan kasa pembalut.

3.      Fleksikan siku 90° dan balut dengan kasa pembalut lain, balut lengan atas menyilang dinding perut. Yakinkan bahwa tali pusat tidak tertutup kasa pembalut.

4.      Nasehati ibu agar kembali 10 hari kemudian untuk mengganti pembalut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s