Hypotermi, Hypertermi, Hypoglikemia

 

BAB II

 

PEMBAHASAN

 

 

 

2.1 Hypotermia

 

2.1.1      Pengertian Hypotermia

 

Hypotermia adalah kondisi di mana tubuh kita mengalami penurunanan suhu inti (suhu organ dalam). Hipotermia bisa menyebabkan terjadinya pembengkakan di seluruh tubuh (Edema Generalisata), menghilangnya reflex tubuh (areflexia), koma, hingga menghilangnya reaksi pupil mata (sarwono prawirohardjo, 2006).

 

                     Bayi lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui jendela/pintu yang terbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat kehilangan panas tubuh. Akibatnya dapat menimbulkan serangan dingin (cold stress) yang merupakan gejala awal dari hypotermi.

 

                     Bayi kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena kontrol suhunya belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hypotermia seringkali tidak terdeteksi oleh ibu/keluarga bayi atau penolong. Gejala hypotermia terjadi bila suhu tubuh (aksila) bayi turun dibawah 36°C,nilai normal 36,5°C – 37,5°C.

 

                     Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hypotermi sedang suhu 32°C – 36°C. Disebut hypotermi berat bila suhu tubuh < 32°C. Untuk mengukur suhu hypotermi diperlukan termometer ukuran rendah yang dapat mengukur sampai 25°C. Disamping sebagai suatu gejala, hypotermia dapat merupakan awal penyakit yang berakhir dengan kematian.

 

 

 

                      Hypotermia dapat terjadi secara cepat pada bayi yang sangat kecil atau bayi yang diresusitasi (dipisahkan dari ibu), dalam kasus ini suhu dapat cepat turun < 35°C. Hypotermi menyebabkan penyempitan pada pembuluh darah, yang mengakibatkan terjadinya metabolik anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen dalam tubuh, yang mengakibatkan hypoksemia dan berlanjut dengan kematian. 

 

Metode kehilangan panas :

 

a.    Radiasi : kehilangan panas dalam bentuk gelombang elektronik kepermukaan benda lain yang tidak bersentuhan langsung dengan tubuh.

 

b.    Evaporasi: kehilangan panas ke udara ruangan, dengan cara penguapan air dari permukaan kulit yang basah atau selaput mukosa.

 

c.    Konduksi : kehilangan panas dari molekul tubuh ke molekul suatu benda yang lebih dingin yang bersentuhan dengan tubuh. Terjadi jika neonatus ditempatkan pada permukaan yang dingin dan padat.

 

d.    Konveksi: kehilangan panas dari molekul tubuh atau kulit ke udara yang disebabkan perpindahan udara.

 

 

 

2.1.2           Faktor Resiko Hypotermia

 

1.    Umur : bayi baru lahir, orang tua.

 

2.    Paparan dingin di luar ruangan : olahraga, memakai baju tipis.

 

3.    Obat dan intoksikan : etanol, phenothiazin, barbiturate, anestesi, bloker neuromuscular.

 

4.    Hormon : hipoglikemia, hipotiroidisme, kekurangan adrenalin, hipopituitarisme.

 

5.    Neurologis : stroke, gangguan hipotalamus, Parkinson, dan Cedera sumsum tulang belakang.

 

6.    Multisistem : malnutrisi, sepsis, shock, gangguan hati dan ginjal.

 

7.    Luka bakar dan kelainan kulit eksfoliatif (mengelupas).

 

 

 

 

 

2.1.3        Tanda dan Gejala Hypotermia

 

A.     Gejala pada bayi bisa berupa :

 

1.         Bayi tampak mengantuk.

 

2.         Kulitnya pucat dan dingin.

 

3.         Bayi tidak mau minum/menetek.

 

4.         Bayi tampak lesu/mengantuk terus.

 

5.         Tubuh bayi teraba dingin.

 

6.         Lemah.

 

7.         Menggigil.

 

8.         Dalam keadaan berat, denyut jantung bayi menurun dan tubuh bayi mengeras (sklerema).

 

9.         Gejala awal hipotermia apabila suhu < 36°C atau kedua kaki dan tangan teraba dingin.

 

10.      Bila seluruh tubuh bayi teraba dingin, maka bayi sudah mengalami hipotermia sedang (suhu 32°C  – < 36°C).

 

Hipotermia bisa menyebabkan hipoglikemia (kadar gula darah yang rendah), asidosis metabolik (keasaman darah yang tinggi) dan kematian. Tubuh dengan cepat menggunakan energi agar tetap hangat, sehingga pada saat kedinginan bayi memerlukan lebih banyak oksigen. Karena itu, hipotermia bisa menyebabkan berkurangnya aliran oksigen ke jaringan.

 

 

 

B.     Tanda-tanda klinis hipotermia

 

a.    Hypotermia sedang (stress dingin) :

 

1.    Kaki teraba dingin.

 

2.    Kemampuan menghisap lemah.

 

3.    Tangisan lemah.

 

4.    Aktivitas berkurang, latergis.

 

5.    Suhu 32°C –37°C.

 

6.    Denyut jantung < 100 x/mnt.

 

7.    Kulit berwarna tidak rata atau disebut kutis marmorata

 

                                

 

b.    Hypotermia berat (cedera dingin):

 

1.    Sama dengan hipotermia sedang.

 

2.    Suhu tubuh < 32°C.

 

3.    Bibir dan kuku kebiruan.

 

4.    Pernafasan lambat.

 

5.    Pernafasan tidak teratur.

 

6.    Bunyi jantung lambat.

 

7.    Mungkin timbul hipoglikemi danasidosisi metabolik.

 

 

 

c.    Tanda-tanda stadium lanjut hypotermia :

 

1.    Muka, ujung kaki, dan tangan berwarna merah terang.

 

2.    Bagian tubuh lainnya pucat.

 

3.    Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama    pada punggung, kaki, dan tangan (sklerema).

 

 

 

Menurut tingkat keparahannya, gejala Klinis hypotermia dibagi menjadi 3 :

 

1.    Mild atau ringan.

 

·         Sistem saraf pusat : amnesia, apati, terganggunya persepsi halusinasi

 

·         Cardiovaskular : denyut nadi cepat lalu berangsur melambat, meningkatnya tekanandarah

 

·         Penafasan : nafas cepat lalu berangsur melambat

 

·         Saraf dan otot : tubuh mulai gemetar, menurunnya kemampuan koordinasi otot.

 

2.    Moderate atau sedang.

 

·         Sistem saraf pusat : penurunan kesadaran secara berangsur, pelebaran pupil.

 

·         Cardiovaskular : penurunan denyut nadi secara berangsur.

 

·         Pernafasan : hilangnya reflex jalan nafas(seperti batuk, bersin).

 

·         Saraf dan otot : menurunnya reflex, berkurangnya respon menggigil, mulai munculnya kaku tubuh akibat udara dingin.

 

3.    Severe atau parah.

 

·         Sistem saraf pusat : koma,menurunnya reflex mata(seperti mengedip).

 

·         Cardiovascular : penurunan tekanan darah secara berangsur, menghilangnya tekanandarah sistolik.

 

·         Pernafasan : menurunnya konsumsi oksigen.

 

·         Saraf dan otot : tidak adanya gerakan, menghilangnya reflex perifer.

 

 

 

 

 

2.1.4        Pencegahan Hypotermi

 

1.    Membaringkan bayi dalam ruangan suhu > 35˚C bersama ibunya.

 

2.    Mendekap bayi dengan lekatan kulit ke kulit sesering mungkin.

 

3.    Menunda memandikan bayi sampai dengan 6-24 jam.

 

4.    Bayi dibungkus dengan selimut dan kepalanya ditutup dengan topi. Jika bayi harusdibiarkan telanjang untuk keperluan observasi maupun pengobatan, maka bayi harus ditempatkan dibawah cahaya penghangat.

 

5.    Untuk mencegah hipotermia, semua bayi yang baru lahir harus tetap berada dalamkeadaan hangat.

 

6.    Di kamar bersalin, bayi segera dibersihkan untuk menghindari hilangnya panas tubuh.

 

7.    Menimbang berat badan terselimuti, kurangi berat selimut.

 

8.    Menjaga bayi tetap hangat selam pemeriksaan, buka selimut bayi sebagian-sebagian.

 

 

 

2.1.5       Penatalaksanaan Hypotermia Pada BBL

 

1.    Hypotermia sedang

 

·         Ganti pakaian yang dingin dan basah dengan pakaian yang hangat, memakai topi dan selimuti dengan selimut hangat.

 

·         Bila ada ibu hangatkan bayi dengan melakukan kontak kulit (perawatan bayi lekat).

 

·         Bila ibu tidak ada:

 

       Hangatkan kembali bayi dengan alat pemancar panas. gunakan inkubator dan ruangan hangat.

 

       Periksa suhu alat penghangat dan suhu ruangan, beri ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum dan sesuaikan pengatur suhu.

 

       Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi yang lebih sering di ubah.

 

·         Anjurkan ibu untuk menyusui bayi lebih sering. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan susu peras.

 

·         Minta ibu untuk mengawasi tanda kegawatdaruratan (misal gangguan nafas, kejang, tidak sadar) dan segera mencari pertolongan.

 

·         Periksa kadar glukosa darah, bila < 45 mg/dL (tangani hypoglikemia).

 

·         Periksa suhu bayi setiap jam, bila suhu naik minimal 0,5°C/jam, berarti usaha menghangatkan bayi berhasil. Lanjutkan periksa suhu tiap 2 jam.

 

·         Bila suhu tidak naik atau terlalu pelan, kurang 0,5°C/jam, cari tanda sepsis.

 

2.    Hypotermia berat

 

·         Segera hangatkan bayi di bawah pemancar panas yang telah dinyalakan sebelumnya. Gunakan inkubator atau ruangan hangat.

 

·         Hindari paparan panas yang berlebihan dan posisi bayi sering diubah.

 

·         Bila bayi dengan gangguan nafas (frekuensi nafas > 60 atau < 30 x/mnt, tarikan dinding dada, merintih saat ekspirasi).

 

·         Beri cairan IV sesuai dengan dosis rumatan, dan pipa infus tetap terpasang dibawah pemancar panas, untuk menghangatkan cairan.

 

·         Nilai tanda kegawatan pada bayi.

 

·         Ambil sempel darah dan beri antibiotika sesuai dengan yang disebutkan dalam penanganan kemungkinan sepsis.

 

          Prinsip kesulitan sebagai akibat hipotermia adalah meningkatnya konsumsi oksigen (terjadi hipoksia), terjadinya metabolik asidosis sebagai konsekuensi glikolisis anaerobik, dan menurunnya simpanan glikogen dengan akibat hipoglikemia, hilangnya kalori berdampak dengan turunnya berat badan.

 

 

 

2.2  Hypertermia

 

2.2.1        Pengertian Hypertermia

 

          Hypertermia adalah peningkatan suhu tubuh di atas titik pengaturan hipotalamus  > 37,5°C bila mekanisme pengeluaran panas terganggu (oleh obat dan penyakit) atau dipengaruhi oleh panas eksternal (lingkungan) atau internal (metabolik)(sarwono prawirohardjo, 2006). Perpindahan panas karena lingkungan yang terlalu panas yang dapat mengakibatkan hypertermi sehingga berbahaya bagi bayi baru lahir. 

 

Sengatan panas (heat stroke) per definisi adalah penyakit berat dengan ciri temperatur inti > 40°Cdisertai kulit panas dan kering serta abnormalitas sistem saraf pusat seperti delirium, kejang, atau koma yang disebabkan oleh pajanan panas lingkungan (sengatan panas klasik) atau kegiatan fisik yang berat (Prawirohardjo, sarwono. 2002). Lingkungan yang terlalu panas juga berbahaya bagi bayi. Keadaan ini terjadi bila bayi diletakkan dekat dengan sumber panas, dalam ruangan yang udaranya panas atau terlalu banyak pakaian dan selimut.

 

Terapi hypertermia pada umumnya tidak menyebabkan kerusakan jaringan normal/sehat jika suhunya tidak melebihi 43,8°C. Tetapi perbedaan karakter jaringan dapat menimbulkan perbedaan suhu atau efek samping pada jaringan tubuh yang berbeda-beda

 

2.2.2          Faktor Resiko Hypertermia

 

1.     Suhu lingkungan.

 

2.     Dehidrasi.

 

3.     Perdarahan intrakranial.

 

4.     Infeksi.

 

 

 

2.2.3          Tanda dan Gejala Hypertermia  

 

  Tanda dan gejala hypertermia pada bayi baru lahiradalah:

 

1.    Suhu tubuh bayi > 37,5°C.

 

2.    Frekuensi pernafasan bayi > 60x/mnt.

 

3.    Tanda-tanda dehidrasi, yaitu berat badan menurun, turgor kulit kurang, banyaknya air kemih berkurang, perdarahan intrakranial, heat stroke dan kematian.

 

4.    Kulit hangat telihat kemerahan atau merah muda pada awalnya dan kemudian terlihat pucat.

 

5.    Ketidakmampuan neonatus untuk mengeluarkan keringat.

 

6.    Meningkatnya laju metabolik, iritabel/rewel, takikardia dan takipnea.

 

 

 

2.2.4          Penatalaksanaan Hypertermia BBL

 

1.        Bayi dipindahkan ke ruangan yang sejuk dengan suhu kamar sekitar (26°C –28°C).

 

2.        Lepaskan sebagian atau seluruh pakaian bayi bila perlu.

 

3.        Periksa suhu aksila bayi setiap satu jam sampai suhu tubuh dalam batas normal.

 

4.        Tubuh bayi diseka dengan kain basah sampai suhu tubuh bayi normal (jangan menggunakan air es).

 

5.        Bila suhu sangat tinggi (>39°C), bayi dikompres atau dimandikan selama 10-15 menit dalam air suhu 4°C lebih rendah dari suhu tubuh bayi.jangan menggunakan air dingin atau air yang suhunya lebih rendah dari 4°C dibawah suhu bayi.

 

6.        Berikanlah cairan dextrose : NaCl = 1:4 secara intravena sampai dehidrasi teratasi.

 

7.        Berikan antibiotika apabila ada infeksi.

 

                                                                               

 

2.2.5          Manajemen Lanjutan Suhu Lebih Dari 37,5°C

 

1.    Yakinkan bayi mendapat masukan cukup cairan:

 

·         Anjurkan ibu untuk menyusui bayinya.

 

·         Bila bayi tidak dapat menyusu, beri ASI peras dengan salah satu alternatif cara pemberian minum.

 

·         Bila terdapat tanda dehidrasi (mata atau ubun-ubun besar cekung, elastisitas kulit turun, lidah dan membran mukosa kering), tangani dehidrasi.

 

·         Periksa kadar glukose darah, bila < 45mg/dl (2,6 mmol/L) tangani hypoglikemia.

 

·         Cari tanda sepsis, sekarang dan ulangi lagi bila suhu telah mencapai batas normal.

 

·         Setelah suhu bayi normal, lakukan perawatan lanjutan dan pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhu tubuh bayi setiap 3 jam.

 

·         Bila suhu tetap dalam batas normal, dan bayi dapat minum dengan baik serta tidak ada masalah lain yang memerlukan perawatan di rumah sakit, bayi dapat dipulangkan. Nasihati ibu cara menghangatkan bayi di rumah dan melindungi dari pancaran panas yang berlebihan.

 

 

 

1.3       Hypoglikemia (kadar glukose darah rendah)

 

2.3.1          Pengertian Hypoglikemia

 

          Hypoglikemi adalah konsentrasi glukose darah di bawah 40mg/100ml atau keadaan hasil pengukuran kadar glukose darah kurang dari 45 mg/dL (2.6 mmol/L) (Rosa M Sacharin, 1986). Hypoglikemi merupakan keadaan yang serius dan keadaan semakin gawat jika anak semakin muda.

 

Sel otak tidak mampu hidup jika kekurangan glukose. Hypoglikemi dapat terjadi berkaitan dengan banyak penyakit, misalnya pada neonatus dengan ibu diabetes dan mengalami Hyperglikemi in utero, atau sebagai komplikasi cidera dingin. Selama masa menggigil simpanan glikogen tubuh tidak mencukupi, tetapi jika dihangatkan terjadi peningkatan kebutuhan glikogen. Simpanan glikogen menurun dan cadangan tidak dapat memenuhi kebutuhan pada pemanasan.

 

 

 

2.3.2          Patofisiologi

 

1.    Hypoglikemia sering terjadi pada  BBLR, karena cadangan glukosa rendah.

 

2.    Pada ibu DM terjadi transfer glukosa yang berlebihan pada janin sehingga respon insulin juga meningkat pada janin. Saat lahir di mana jalur plasenta terputus maka transfer glukosa berhenti sedangkan respon insulin masih tinggi (transient hiperinsulinism) sehingga terjadi hypoglikemi.

 

3.    Hypoglikemia dapat menimbulkan kejang yang berakibat terjadinya hipoksi otak. Bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan kerusakan pada susunan saraf pusat bahkan sampai kematian.

 

4.    Kejadian hypoglikemia lebih sering didapat pada bayi dari ibu dengan diabetes.

 

5.    Glukosa merupakan sumber kalori yang penting untuk ketahanan hidup selama proses persalinan dan hari-hari pertama pasca lahir.

 

6.    Setiap stress yang terjadi mengurangi cadangan glukosa yang ada karena meningkatkan penggunaan cadangan glukosa, misalnya  pada asfiksia, hypotermi, hypertermi, gangguan pernapasan.

 

 

 

2.3.3                Faktor Resiko Hypoglikemia Pada BBL

 

1.    Bayi dari ibu dengan diabetes (IDM).

 

2.    Neonatus yang besar untuk masa kehamilan (BMK).

 

3.    Neonatus yang kecil untuk masa kehamilan (KMK).

 

4.    Bayi prematur dan lebih bulan.

 

5.    Neonatus sakit / stres (syndrom gawat nafas,hypotermia).

 

6.    Neonatus puasa.

 

7.    Neonatus dengan polisitemia.

 

8.    Neonatus dengan eritroblastosis.

 

9.           Obat – obatan yang dikonsumsi ibu misalnya: steroid, beta simpatomimetik dan beta blocker.

 

 

 

2.3.4       Type Hypoglikemi

 

Digolongkan menjadi beberapa jenis yakni:

 

1.         Transisi dini neonatus ( early transitional neonatal ) : ukuran bayi yang besar ataupun normal yang mengalami kerusakan sistem produksi pankreas sehingga terjadi hiperinsulin.

 

2.         Hypoglikemi klasik sementara (Classic transient neonatal) : tarjadi jika bayi mengalami malnutrisi sehingga mengalami kekurangan cadangan lemak dan glikogen.

 

3.         Sekunder (Scondary) : sebagai suatu respon stress dari neonatus sehingga terjadi peningkatan metabolisme yang memerlukan banyak cadangan glikogen.

 

4.         Berulang ( Recurrent) : disebabkan oleh adanya kerusakan enzimatis, atau metabolisme insulin terganggu.

 

 

 

2.3.5       Penyebab dan Mekanisme Hypoglikemia

 

1.         Berkurangnya persediaan dan menurunnya produksi glukosa.

 

2.         Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulinisme).

 

3.         Kedua mekanisme tersebut.

 

4.         Lain – lain :

 

a.     Berkurangnya simpanan glukosa dan menurunkan produksi glukosa, neonatus yang mempunyai resiko dengan keadaan ini adalah :

 

·         PJT atau KMK

 

·         Bayi prematur atau lebih bulan

 

·         Neonatus yang mengalami penundaan pemberian asupan

 

·         Neonatus yng menderita asfiksia perinatal

 

·         Neonatus dengan hypotermia dan atau stres dingin

 

b.     Peningkatan pemakaian glukosa (hiperinsulinisme), neonatus yang beresiko dengan keadaan ini adalah :

 

·         IDM – BMK (besar masa kehamilan)

 

·         Neonatus yang menderita eritroblastosis fetalis (isoimunisasi RH-berat)

 

·         Neonatus dengan syndroma beckwith-wiedemann

 

·         Neonatus dengan nesidioblastosis atau adenoma pankreatik

 

c.      Kedua mekanisme telah disebutkan diatas.

 

d.     Lain – lain :

 

·         Insufisiensi adrenal

 

·         Sepsis

 

·         Penyakit penyimpanan glikogen (glycogen storage)

 

·         Transfusi tukar

 

·         Penyakit jantung kongenital – hipopituitarisme kongenital

 

·         Obat untuk ibu: steroid, beta blocker

 

 

 

2.3.6       Tanda dan Gejala

 

                 Kasus bisa menunjukan gejala ataupun tidak. Kecurigaan tinggi harus selalu diterapkan dan selalu antisipasi hypoglikemia pada neonatus dengan faktor resiko. Tanda dan gejala hypoglokemia pada bayi baru lahir  adalah :

 

1.     Tidak tenang, gerakan tidak beraturan (Jitteriness).

 

2.     Sianosis.

 

3.      Kejang atau tremor.

 

4.     Letargi dan menyusui yang buruk.

 

5.      Apnea.

 

6.     Tangisan yang lemah atau bernada tinggi.

 

7.     Hipotermia.

 

8.     RDS

 

 

 

2.3.7       Diagnosis Hypoglikemia Pada Neonatus

 

1.         Untuk mencegah abnormalitas perkembangan syaraf, identifikasi dan pengobatan tepat waktu untuk hypoglikemia adalah sangat penting.

 

2.         Pemantauan glukosa ditempat tidur adalah tindakan tepat untuk penapisan dan deteksi awal.

 

3.         Hypoglikemia harus dikonfirmasi oleh nilai serum dari laboratorium jika memungkinkan.

 

 

 

 

 

2.3.8       Penatalaksanaan Hypoglikemia

 

1.         Penatalaksanaan hypoglikemia pada bayi Pada bayi yang beresiko (BBLR, BMK, bayi dengan ibu DM) perlu dimonitor dalam 3 hari pertama :

 

·         Periksa kadar glukosa saat bayi datang/umur 3 jam.

 

·         Ulangi tiap 6 jam selama 24 jam atau sampai pemeriksaan glukosa normal dalam 2 kali pemeriksaano .

 

·         Kadar glukosa ≤  45 mg/dl atau gejala positif tangani hipoglikemia.

 

·         Pemeriksaan kadar glukosa baik, pulangkan setelah 3 hari penanganan hipoglikemia selesai .

 

2.         Glukose darah < 25 mg/dl (1,1 mmol/L) atau terdapat tanda hypoglikemia:

 

·         Pasang jalur IV jika belum terpasang.

 

·               Berikan glukose 10% 2 ml/kg secara IV bolus dalam 5 menit. Jika jalur IV tidak dapat dipasang dengan cepat, berikan larutan glukose melalui pipa lambung dengan dosis yang sama.

 

·               Periksa kadar glukose darah 1 jam setelah bolus glukose dan kemudian tiap 3 jam:

 

       Jika kadar glukose darah masih kurang 25 mg/dl (1,1 mmol/L), ulangi pemberian bolus glukose seperti tersebut di atas dan di lanjutkan pemberian infus.

 

       Bila kadar glukose darah 45 mg/dl (2,6 mmol/L) atau lebih dalam dua kali pemeriksaan berturut-turut, ikuti petunjuk tentang frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah kembali normal.

 

·               Anjurkan ibu untuk menyusui. Bila bayi tidak dapat menyusu, berikan ASI peras.

 

·               Bila kemampuan minum bayi meningkat turunkan pemberian cairan infus setiap hari secara bertahap. Jangan menghentikan infus glukose secara tiba-tiba.

 

3.         Glukose darah 25 mg/dl (1,1 mmol/L) – 45 mg/dl (2,6 mmol/L) tanpa tanda hipoglikemia:

 

·               Anjurkan ibu menyusui bayinya. Bila bayi tidak dapat menyusui, berikan ASI peras dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.

 

·               Pantau tanda hypoglikemia dan bila dijumpai tanda tersebut, tangani seperti tersebut diatas.

 

·               Periksa kadar glukose darah dalam 3 jam sebelum pemberian minum berikutnya:

 

       Jika kadar glukose darah < 25 mg/dl (1,1 mmol/L) atau terdapat tanda hypoglikemia, tangani seperti tersebut diatas.

 

       Jika kadar glukase darah masih antara 25 – 45 mg/dl (1,1 – 2,6 mmol/L), naikkan frekuensi pemberian minum ASI atau naikkan volume pemberian minum dengan menggunakan salah satu alternatif cara pemberian minum.

 

       Jika kadar glukose darah 45 mg/dl (2,6 mmol/L) atau lebih lihat tentang frekuensi pemeriksaan kadar glukose darah dibawah ini.

 

4.         Frekuensi pemeriksaan glukose darah setelah kadar glukose darah normal

 

·               Jika bayi mendapatkan cairan IV, untuk alasan apapun, lanjutkan pemeriksaan kadar glukose darah setiap 12 jam selama bayi masih memerlukan infus. Jika kapan saja kadar glukose darah turun, tangani seperti di atas.

 

·               Jika bayi sudah tidak lagi mendapat infus cairan IV, periksa kadar glukose darah setiap 12 jam sebanyak 2 kali pemeriksaan:

 

       jika kapan saja kadar glukose darah turun, tangani seperti tersebut diatas.

 

       Jika kadar glukose darah tetap normal selama waktu tersebut, maka pengukuran dihentikan.

 

Pada timbul dibetes mellitus ada rasa haus, penurunan berat badan, banyak kencing, lesu dan mengompol waktu malam. Gejala – gejala ini tampak selama beberapa minggu. Ketoasidosis yang nampak pada anak harus diperlakukan sebagai keadaan gawat dan anak harus dirawat dirumah sakit.

 

Insulin komponen tunggal berisi porsin murni (misalnya Actrapid MC atau Leo Neutral) diberikan melalui infus pelan menggunakan pompa infus yang memberikan 2,5 atau 5 unit perjam secara teratur tergantung usia anak. NaCl 0,9 % diberikan secara intravena sampai gula darah mendekati harga normal (11 mmo1/1) kemudian diganti dengan NaCl 0,45 % ditambah Dekstrosa 5 %. Natrium bikarbonat dan garam kalium ditambahkan bila perlu.

 

Pada penyembuhan secara bertahap diberikan diet yang sesuai tergantung usia anak. Insulin diberikan sesuai hasil pemeriksaan air kencing sebelum makan. Dalam waktu singkat anak makan seperti biasa dan dapat dimulai dengan insulin “ long acting “ sebagai pengobatan pemeliharaan.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s