NEONATUS BAYI DAN BALITA DENGAN MASALAH ORAL TRUSH, DIAPER RUSH, SEBORRHEA, BISULAN DAN MILLIARIASIS

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1       Oral Trush

              2.1.1        Pengertian Oral Trush

                              Oral trush adalah adanya bercak putih pada lidah, langit-langit, dan pipi bagian dalam (Wong, 1995). Bercak tersebut sulit untuk dihilangkan dan bila dipaksakan untuk diambi maka akan mengakibatkan perdarahan. Oral Trush ini sering disebut juga dengan oral candidiasis atau moniliasis, dan sering terjadi pada masa bayi. Seiring dengan bertambahnya usia, angka kejadian makin jarang, kecuali pada bayi yang mendapatkan pengobatan antibiotik atau imunosupresi (Nelson, 1994: 638)

                 Oral trush adalah infeksi Candida yang didapat bayi melalui jalan lahir atau perkontinuitatum. Biasanya infeksi terjadi didaerah mukokutan, mulut dan bibir. Lesi berupa bercak putih yang lekat pada lidah, bibir dan mukosa mulut yang dapat dibedakan dengan sisa susu. Infeksi ini dapat meluas ke saluran terutama di lipatan kulit, bahkan ke berbagai alat dalam.

 

2.1.2         Penyebab Oral trush

                 Penyebab oral trush pada umumnya adalah candida albicans yang ditularkan melalui vagina ibu yang terinfeksi selama persalinan (saat bayi baru lahir) atau transmisi melalui botol susu dan puting susu yang tidak bersih, atau cuci tangan yang tidak benar. Selain itu juga dapat melalui Infeksi silang dari penderita kandidiasis lain, dan bayi yang mendapatkan terapi antibiotika atau immunosupresi.

Faktor predisposisi :

·        Faktor endogen : perubahan fisiologik, umur, imunologik

·        Faktor eksogen : iklim, kebersihan, kontak dengan penderita

 

2.1.3         Pengkajian atau gejala Oral trush

.                        1.  Tampak bercak keputihan pada mulut, terutama di lidah dan pipi bagian dalam, yang sulit dibersihkan.

2.     Anak kadang-kadang menolak untuk minum.

3.    Pola kebersihan cenderung kurang. Orang tua jarang mencuci tangan bila merawat atau meneteki bayinya. Selain itu, kebersihan botol atau puting ketika menyusui juga kurang diperhatikan.

4.    Jika susu mudah diangkat, namun jika oral trush sulit diangkat dan jika dilepaskan dari dasarnya akan menyebabkan basah, merah dan berdarah.

5.    Diagnosa dapat diketahui dengan sediaan hapusan yang berwarna biru metilen dan tampak miselium dan spora yang khas.

 

2.1.4         Perencanaan penatalaksanaan

                   1.  Jaga kebersihan bayi dan peralatan yang dugunakan. Misalnya dengan membersihkan mulut dan lidah yang dibasahi dengan air matang hangat.

                   2.  Cuci tangan sesudah dan merawat bayi.

                   3.  Ibu yang terinfeksi candida albicans harus diobati untuk mencegah infeksi berulang.

                   4.  Untuk perawatan mulut bayi, bersihkan dahulu dengan jari yang dibungkus (kain bersih, kasa) yang telah dibasahi dengan larutan garam.

                   5.  Oleskan gentian violet 0,25% pada mulut dengan kapas lidi atau memberikan mycostatin (oral mycostatin) 4 x sehari atau tiap 6 jam sebanyak 1 cc selama 1 minggu atau sampai gejala menghilang.

 

2.2              Diaper Rush/Ruam popok

2.2.1                      Pengertian Diaper Rush

Ruam popok sering disebut juga dengan diaper rush atau diaper dermatitis. Ada beberapa pengertian tentang ruam popok, yaitu:

1.      Inflamasi akut pada kulit yang disebabkan secara langsung atau tidak langsung oleh pemakaian popok (Wong, 1993: 1044)

2.      Merupakan dermatitis kontak iritan karena bahan kimia yang terkandung dalam urine dan faeces (Agus Harianto, 1998)

3.      Akibat akhir karena kontak yang terus-menerus dengan keadaan lingkungan yang tidak baik, sehingga menyebabkan iritasi/dermatitis pada daerah perianal (Depkes RI, 1994)

                   Selain itu, ruam popok adalah ruam yang terjadi pada daerah di sekitar bokong/pantat karena pemakaian popok yang jarang diganti, terlalu ketat, atau terlalu lama. Biasanya ruam tersebut tidak berbahaya, tetapi dapat menimbulkan rasa nyeri dan menyebabkan kegelisahan pada bayi serta orang tuanya. Ruam itu sendiri diartikan sebagai daerah kulit yang kemerahan dengan rasa nyeri dan iritasi. Ruam popok sering terjadi pada bayi yang menggunakan popok. Biasanya terjadi pada anak usia di bawah 2 tahun, dengan puncaknya antara usia 8 bulan sampai 10 bulan.

     

2.2.2                      Penyebab Diaper Rush atau Ruam Popok

Ada beberapa penyebab ruam popok. Salah satunya yaitu kontak yang lama dan berulang dengan bahan iritan, terutama urine dan faeces. Bahan kimia pencuci popok seperti sabun, detergen, pemutih, pelembut pakaian dan bahan kimia yang dipakai oleh pabrik pembuat popok disposable juga dapat menyebabkan ruam popok (Wong, 1993). Meskipun urine dan faeces merupakan penyebab utama, kombinasi faktor lainnya juga memberikan kontribusi terhadap terjadinya ruam popok.

                               Kontak yang lama antara kulit dan popok yang basah mempengaruhi beberapa bagian kulit. Gesekan yang lebih sering dan lama menimbulkan kerusakan/iritasi pada kulit yang dapat menyebabkan permeabilitas kulit dan jumlah mikroorganisme. Dengan demikian kulit menjadi sensitif dan mudah mengalami iritasi. Amonia juga dipandang sebagai penyebab terjadinya ruam popok, meskipun amonia tidak berdiri sendiri. Peningkatan PH urine mengakibatkan peningkatan enzim fecal, yaitu protease dan lipose, sehingga memudahkan terjadinya iritasi pada daerah bokong. Enzim fecal juga meningkatkan permeabilitas kulit akibat garam empedu yang terkandung pada feases, terutama pada saat diare, sehingga juga menyebabkan iritasi pada daerah peranal.

 

2.2.3                      Tanda dan Gejala  Ruam Popok Pada Bayi

                               Ruam popok mudah terdeteksi. Tanda dan gejala bayi terkena ruam popok adalah daerah yang tampak kemerahan disekitar tempat pemakaian popok, kulit menjadi perih, bayi menjadi sangat cerewet dan tidak tenang. Bila tidak diobati bisa menimbulkan luka lepuh yang kecil dan akan semakin parah. Terkadang dapat terjadi ruam popok yang disebabkan oleh jamur candida albican. Ruam popok akibat candida albican biasanya ditandai dengan kulit kemerahan, agak menonjol sedikit (seperti biduran), dan ada bintik-bintik kecil didaerah luka. Pada ruam popok akibat jamur candida albican ini, biasanya proses penyembuhannya membutuhkan waktu yang lebih lama.

                               Selain itu, gejala ruam popok sangat bervariasi, mulai dari adanya macula eritemateus pada kulit yang tertutup popok, seperti luka bakar, sampai adanya papula vesikel, pustula, dan erosi superficial. Apabila keadaan ini dibiarkan lebih dari 3 hari, maka bagian yang terkena ruam popok akan ditumbuhi jamur candida albicans.

 

2.2.4                      Asuhan Anak dengan Diaper Rush atau Ruam Popok

A.       Pengkajian

1.             Umur. Ruam popok umumnya terjadi pada anak berusia kurang dari 2 tahun. Setelah berumur 2 tahun ke atas, anak jarang mengalami hal ini. Insiden terbanyak pada anak berusia 9-12 bulan.

2.             Pola kebersihan cenderung kurang, terutama pada daerah peranal, bokong dan perut bagian bawah. Apabila selesai BAB/BAK daerah pantat tidak dibersihkan dengan air sebelum diganti dengan popok yang bersih. Selain itu, popok basah terkena urine/feses yang tidak segera diganti, bahkan sampai kering kembali akan mempermudah terjadinya ruam popok.

3.             Bayi sering menggunakan popok plastik yang kedap air dan disposable, yang terbuat dari bahan sintetis yang cukup lama .

4.             Perlu dikaji bagaimana cara ibu mencuci pakaian dan popok. Apabila menggunakan popok disposable (misalnya pampers), harus diganti setelah beberapa jam. Pencucian yang tidak bersih dapat menyebabkan ruam popok karena detergen tertinggal pada pakaian.

5.             Pada pemeriksaan daerah bokong terdapat bintik-bintik kemerahan yang kadang-kadang berisi nanah. Demikian juga pada daerah bawah perut.

6.             Anamnesa   faktor alergi. Kemungkinan anak sensitif terhadaf detergen atau sabun cuci yang digunakan atau anak alergi terhadap disposable.

 

                               B.   Diagnosis/Masalah

                          1.       Ruam pada pantat.

                          2.       Pola kebersihan ulang.

                          3.       Kemungkinan alergi terhadap detergen.

 

C.        Perencanaan/Intervensi

1.      Hindari penggunaan sabun yang berlebihan untuk membersihkan daerah pantat/bokong. Sabun yang berlebihan dan keras sifatnya dapat menyebabkan iritasi.

2.      Sebaiknya gunakan kapas dengan air hangat atau kapas dengan minyak untuk membersihkan daerah perianal segera setelah BAB/BAK.

3.      Bila terdapat bintik kemerahan, berikan krim atau salep, dan biarkan terbuka untuk beberapa saat.

4.      Jaga agar kulit tetap kering dengan cara:

1)        Apabila menggunakan popok kain, perhatikan agar sirkulasi udara tetap terjaga.

2)        Apabila menggunakan popok disposable, pilih yang menggunakan bahan super absorbent yaitu popok yang terbuat dari bahan yang mengandung gel penyerap. Gel ini menyerap air secara kuat sehingga kulit tetap kering dan dapat mengontrol pH urin atau faeces (Wong dan Athers, 1992).

3)        Hindari penggunaan popok atau celana yang terbuat dari karet atau plastik.

4)        Penggunaan bedak talk dapat menjaga agar kulit tetap kering, tetapi sangat berbahaya jika masuk kedalam saluran nafas dan dapat menyebabkan iritasi kulit perianal bila tercampur dengan urine atau faeces. Apabila ingin menggunakan bedak, gunakan bedak yang terbuat dari serbuk jagung karena relatif lebih aman. Tuangkan pada kasa atau tangan atau saput lalu taburkan pada bagian luar saja (Wong, 1992: 1045).

5)        Berikan posisi tidur yang selang seling, terutama pada daerah pantat agar pantat tidak tertekan dan memberikan kesempatan pada bagian tersebut untuk kontak dengan udara.

6)        Pakaian, celana, atau popok yang kotor sebelum dicuci sebaiknya direndam dulu dalam air yang dicampur acidum boricum, kemudian dibilas, lalu keringkan. Hindari penggunaan detergen atau pengharum pakaian.

7)        Jaga kebersihan tubuh dan lingkungan secara umum.

 

2.2.5           Yang Perlu Dilakukan Bila Bayi Terkena Ruam Popok

                   Ruam popok termasuk penyakit yang ringan dan umumnya akan menghilang setelah 2-3 hari dengan penanganan yang tepat. Bila bayi terkena ruam popok, orang tua dapat melakukan beberapa hal untuk membantunya, diantaranya:

1.      Gantilah popok yang lebih sering. Jangan biarkan popok bayi basah karena air seni atau tinja terlalu lama.

2.      Orang tua dapat memberikan krim antiseptik untuk membersihkan dan memeringankan perih disekitar pantat bayi.

3.      Bila ada kesempatan untuk tidak menggunakan popok, manfaatkanlah. Hal ini dapat membantu mempercepat proses pemulian kulit bayi anda.

4.      Bila dirasa perlu, dokter akan memberikan krim yang mengandung zinc, steroid, anti jamur, atau antibotik, tergantung keadaannya. Selalu konsultasikan pemberian krim dengan dokter. 

 

2.3       Seborrhea

            2.3.1    Pengertian seborrhea

Seborrhea adalah suatu peradangan pada kulit bagian atas, yang menyebabkan timbulnya sisik pada kulit kepala, wajah dan kadang pada bagian tubuh lainnya. Biasanya, proses pergantian sel-sel pada kulit kepala terjadi secara perlahan-lahan dan tidak terlihat oleh mata. Proses pergantian tersebut terjadi setiap bulan. Jika proses ini menjadi lebih cepat, maka akan timbul gangguan pada kulit kepala yang kita sebut ketombe. Gangguan yang lebih parah yaitu dermatitis seboroik, berupa serpihan berwarna kuning berminyak yang melekat pada kulit kepala. Dermatitis seboroik adalah golongan kelainan kulit yang didasari oleh faktor konstitusi dan bertempat predileksi ditempat seboroik.

2.3.2    Faktor Predisposisi

Status seboroik, Kelelahan, stress emosional, infeksi pityrosporum ovale. P. Ovale adalah jamur yang secara alami terdapat pada kulit kepala dan bagian kulit yang lain. Dalam jumlah yang sedikit, jamur ini tidak menyebabkan kerugian yang berarti. Namun, dengan adanya perubahan cuaca, hormon, dan stress, kulit kepala kita akan menghasilkan lebih banyak minyak, sehingga menyebabkan jamur P. Ovale berkembang biak. Dengan berkembangbiaknya jamur tersebut, akan menyebabkan gatal pada kulit kepala dan mempercepat kerontokan sel kulit yang lama.

 Namun sebenarnya penyakit ini belum diketahui penyebabnya. Mulai dari kulit kepala kemudian menjalar ke muka, kuduk, leher dan badan. Ada yang mengatakan bahwa penyakit radang ini berdasarkan gangguan konstitusionil dan sering terdapat faktor hereditas. Tidak dapat disangkal bahwa penderita umumnya kulit yang berlemak (seborea), tetapi bagaimana hubungan antara kelanjar lemak dan penyakit ini sama sekali belum jelas. Ada yang menganggap bahwa kambuhnya penyakit yang kronis ini adalah akibat makanan yang berlemak, makanan berkalori tinggi, minuman alkohol dan gangguan emosi.

Pada anak bayi biasanya terdapat tipe eritrokuamosa. Efloresensi berupa sisik yang berlemak dan eritema. Distribusi kelainan pada daerah yang terdapat banyak kelenjar sebasea dan kepala. Kadang-kadang juga di daerah intertriginosa dan sekitar bibir.

 

2.3.3    Manifestasi Klinis

Lesi berupa eritema, sekuama berminyak agak kekuningan, berbatas agak kurang tegas. Bentuk yang ringan adalah pitiriasis sika (ketombe,dandruff) yang hanya mengenai kulit kepala berupa skuama halus dan kasar. Bentuk yang berminyak  disebut pitiriasis steatoides, dapat disertai eritema dan krusta tebal. Rambut pada tempat  tersebut  mempunyai kecenderungan rontok, mulai di bagian verteks dan frontal, disebut alopesia  seboroika. Pada bentuk yang berat  terhadap bercak-bercak berskuama dan berminyak, disertai eksudasi dan krusta tebal. Sering meluas ke dahi, glabela, telinga posaurikular, dan leher. Pada daerah dahi batasnya  sering cembung.

Pada bentuk yang lebih berat,  seluruh kepala  tertutup krusta kotor dan berbau tidak sedap. Pada bayi, skuama yang kekuningan dan  kumpulan debris epitel yang lekat pada  kulit disebut cradle cap.

Pada daerah supraorbital skuama halus dapat terlihat di alis mata, kulit di bawahnya eritematosa  dan gatal, disertai bercak skuama kekuningan. Dapat pula terjadi blefaritis, yakni pinggiran kelopak mata merah disertai  skuama halus.

Tempat predileksi adalah kepala, dahi, glabela, telinga posaurikular, liang telinga luar, leher, lipatan nasolabial, daerah sterna, areola mammae, lipatan di bawah mammae pada wanita, interskapural, umbilikalis, lipatan paha dan daerah anogenital. Pada daerah pipi, hidung dan dahi kelainan dapat berupa papul.

Dermatitis seboroik dapat bersama-sama dengan akne yang berat. Jika meluas dapat menjadi eritroderma, pada bayi disebut penyakit leiner.

 

2.3.4    Penatalaksanaan

·           Sistemik: pada bentuk yang berat diberikan kortikosteroid (prednisone 20-30 mg)

·           Topikal: pada pitiriasis sika dan oleosa, 2-3 kali/minggu kulit kepala dikeramasi selama 5-15 menit, dengan selenium sulfide (selsun) dalam bentuk sampo atau losio, krim. Jika terdapat skuama dan krusta yang tebal, dilepaskan.

            Obat lain yang  dapat dipakai:

a)                  Ter, misalnya likuor karbonas detergens 2-5 %, atau krim pragmatar

b)                  Resorsin 1-3 %

c)                  Sulfur  presipitatum 4-15 % dapat digabung dengan asam salisil 3-6%

d)                 Kortikosteroid, misalnya krim hidrokortison. Pada kasus dengan inflamasi berat dapat dipakai kortikosteroid yang lebih kuat, misalnya betametason-valerat, asalkan jangan terlalu lama karena efek sampingnya.

Obat – obat tersebut sebaiknya dipakai dalam krim.

Prognosis

Prognosis kurang baik karena adanya faktor konstitusi.

 

 

 

2.4              Bisulan

2.4.1    Pengertian Bisulan

            Bisul(bahasa Latin: abscessus) adalah sekumpulan nanah (neutrofil mati) yang telah terakumulasi di rongga di jaringan setelah terinfeksi sesuatu (umumnya karena bakteri atau parasit) atau barang asing (seperti luka tembakan/tikaman). Bisul adalah reaksi ketahanan dari jaringan untuk menghindari menyebar nya barang asing di tubuh.

 

         2.4.2    Etiologi

Penyebabnya biasanya Staphylococcus aureus.

 

Berdasarkan jumlah mata bisul, dibagi menjadi 2 , Furunkel dan karbunkel.

a.         Furunkel atau bisul (bisul satu mata)

       Ialah penyakit  infeksi akut pada folikel rambut dan perifolikuler, bulat, nyeri, berbatas tegas yang berakhir dengan supurasi di tengah. Jika lebih dari satu disebut furunkulosis. Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus, tetapi bisa juga disebabkan oleh bakteri lainnya atau jamur.

Furunkel berawal sebagai benjolan keras berwarna merah yang mengandung nanah. Lalu benjolan ini akan berfluktuasi dan tengahnya menjadi putih atau kuning (membentuk pustula). Bisul bisa pecah spontan atau dipecahkan dan mengeluarkan nanahnya, kadang mengandung sedikit darah. Bisa disertai nyeri yang sifatnya ringan sampai sedang. Kulit di sekitarnya tampak kemerahan atau meradang. Kadang disertai demam, lelah dan tidak enak badan.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Pembiakan contoh jaringan kulit bisa dilakukan untuk memastikan bahwa penyebabnya adalah stafilokokus. Jika bisul timbul di sekitar hidung biasanya akan diberikan antibiotik per-oral (melalui mulut) karena infeksi bisa dengan segera menyebar ke otak

b.      Karbunkel

Ialah furunkel yang berkonfluensi dengan ‘mata’ yang terpisah. Karbunkel adalah sekumpulan bisul yang menyebabkan pengelupasan kulit yang luas serta pembentukan jaringan parut. Penyebabnya adalah bakteri stafilokokus.

Pembentukan dan penyembuhan karbunkel terjadi lebih lambat dibandingkan bisul tunggal dan bisa menyebabkan demam serta lelah karena merupakan infeksi yang lebih serius. Karbunkel Lebih sering terjadi pada pria dan paling banyak ditemukan di leher bagian belakang. Karbunkel juga cenderung mudah diderita oleh penderita diabetes, gangguan sistem kekebalan dan dermatitis. Beberapa bisul bersatu membentuk massa yang lebih besar, yang memiliki beberapa titik pengaliran nanah. Massa ini letaknya bisa lebih dalam di bawah kulit dibandingkan dengan bisul biasa. Infeksi ini menular, bisa disebarkan ke bagian tubuh lainnya dan bisa ditularkan ke orang lain. Tidak jarang beberapa orang dalam sebuah rumah menderita karbunkel pada saat yang sama.

Faktor resiko terjadinya karbunkel adalah tingkat kebersihan yang buruk, keadaan fisik yang menurun, gesekan dengan pakaian, pencukuran.

Pada kulit yang terkena ditemukan beberapa bisul yang bersatu disertai nyeri yang sifatnya ringan atau sedang. Kulit tampak merah dan membengkak. Karbunkel yang pecah akan mengeluarkan nanah lalu mengering dan membentuk keropeng.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Untuk menentukan penyebabnya, bisa dilakukan biopsi atau pembiakan contoh jaringan yang terinfeksi.

 

2.4.3    Faktor Predisposisi

Alkoholisme, malnutrisi, gangguan fungsi neutrofil, faktor menurunnya daya tahan tubuh termasuk AIDS dan diabetes mellitus.

 

2.4.4    Histopatologi

Adanya abses yang dalam dengan limfosit  dan neutrrofil  pada kasus yang sudah lama terdapat sel plasma dan sel datia benda asing (giant cell).

 

2.4.5    Manifestasi Klinis

Keluhannya nyeri dengan nodus eritematosa berbentuk kerucut, di tengahnya terdapat pustule. Kemudian melunakan menjadi abses berisi pus dan jaringan nekrotik, lalu memecah. Tempat predileksi ialah yang banyak mengalami friksi, misalnya aksila,bokong, dan tengkuk/leher.

 

2.4.6    Penatalaksanaan

·           Jika hanya beberapa buah, cukup dengan antibiotik topikal. Jika banyak diberikan antibiotik topikal dan sistemik.

·           Untuk furunkel dini dapat diberikan kompres air hangat dan antibiotik, misalnya golongan  b-laktam, eritromisin, atau selafosporin per oral dengan dosis 1-2 g/hari bergantung pada beratnya penyakit. Bila mengalami supurasi maka furunkel diinsisi.

·           Cari dan hilangkan faktor predisposisi (kalu berulang – ulang mendapat furunkulosis atau karbunkel), misalnya diabetes melitus.

 

2.4.7    Pencegahan

                        1.    Jaga kebersihan tubuh bayi

                        2.    Ruangan yang cukup ventilasi udara

                        3.    Pakaian longgar

                        4.    Ganti pakaian jika basah

                        5.    Gizi cukup

                        6.    Lingkungan yang bersih

                        7.    Jangan menggunakan bedak tebal pada kulit bayi

 

2.5              Milliariasis

2.5.1        Pengertian Milliariasis

Miliaria (biang keringat, keringat buntet, liken tropikus, prickle heat)  adalah kelainan kulit akibat tertutupnya saluran kelenjar keringat yang menyebabkan retensi keringat. Berdasarkan letak sumbatan, miliaria diklasifikasikan menjadi miliaria kristalina, rubra, dan profunda.

Miliaria  merupakan peradangan kulit akibat obstruksi mekanis saluran keringat. Kelainan ini lebih sering ditemukan di daerah yang panas dengan kelembaban tinggi. Lesi kulit yang terjadi tergantung pada letak obstruksi. Pada sumbatan superfisial  terjadi bintik-bintik kecil dengan isi serupa air (miliaria kristalina).  Dalam waktu 24 jam sampai 48 jam dapat terjadi invasi sel-sel polimorfonuklear sehingga terjadi miliaria pustulosa. Bila obstruksi terletak dalam, terjadi lesi eritematosa papulovesikular, disebut sebagai miliaria rubra. Miliaria paling sering terdapat di pipi, lehe, dada, punggung dan lengan atas. Bila miliaria ini digaruk sering terjadi infeksi sekunder.

 

 

2.5.2    Manifestasi Klinis

Pada miliaria kristalina sumbatan terjadi intra/subkorneal.  Terlihat vesikel berukuran 1-2 mm terutama pada badan setelah banyak berkeringat, misalnya karena hawa panas, yang bergerombol tanpa tanda radang pada bagian yang tertutup pakaian. Umumnya tidak member keluhan dan sembuh dengan sisik yang halus.

            Pada miliaria rubra sumbatan terjadi pada stratum spinosum. Terlihat papul merah atau papul vesikular ekstrafolikular yang gatal dan pedih pada badan tempat tekanan atau gesekan pakaian. Miliaria jenis ini terdapat pada orang yang tidak biasa pada daerah tropik.

Miliaria profunda terjadi bila sumbatan terdapat pada dermis bagian atas, biasanya timbul setelah miliaria rubra, ditandai papul putih, keras, berukuran 1-3 mm,terutama di badan dan ekstremitas.

 

2.5.3    Penat alaksanaan

Penting untuk menghindari panas yang berlebihan, mengusahakan ventilasi yang baik, dan menggunakan pakaian tipis dan menyerap keringat. Untuk miliaria kristalina tidak diperlukan pengobatan. Untuk miliaria rubra dapat diberikan bedak  salisil 2% dibubuhi mentol ¼-2%. Losio faberi dapat pula digunakan dengan komposisi sebagai berikut:

R/  Acidi salicylici                   500 mg

Talci                                         5 mg

Oxydi zincici                           5 mg

Amyli oryzae                           5mg

Alcohol (90;vol %)                  25Cc 100

 

Sebagai  antipruritus dapat ditambahkan mentol ½-1% atau kamper 1-2% dalam losio Faberi. Untuk miliaria rubra dapat digunakan losio calamine dengan atau tanpa menthol 0,25%, dapat pula resorsin 3% dalam alcohol.

Prinsip pengobatan adalah mengurangi produksi keringat dan memberi kesempatan agar sumbatan pori itu lenyap sendiri. Sebaiknya penderita tinggal di ruangan yang menggunakan air conditioning atau di tempat yang sejuk dan kering udaranya. Dapat diusahakan penggunaan ventilastor. Terhadap penderita dapat juga diberikan obat antikolinergik yang membuat produksi keringat berkurang, yaitu misalnya prantal, probantine dan sebagainya. Pakaian yang dikenakan harus tipis.
Topikal dapat diberikan bedak kocok yang bersifat mendinginkan dan desinfektan serta anti gatal. Pada penderita misalnya dapat diberikan losio kummerfeldi.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s