OPERASI CAESAR

PERSIAPAN OPERASI
Persiapan operasi Cesar sama seperti operasi pada umumnya yaitu, pasien dipuasakan selama 4 jam
sebelum operasi, pemeriksaan darah seperti darah tepi, pembekuan darah, golongan darah, gula
darah, HbS Antigen dan sebagainya. Bayi dimonitor dengan alat cardiotokografi. Bila perlu diberikan
obat corticosteroid dengan tujuan pematangan paru janin terutama bila kurang bulan ( kurang dari
37 minggu). Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa bayi cukup bulan yang lahir melalui operasi
Cesar mempunyai risiko pernafasan yang lebih besar daripada yang lahir biasa. Pada bayi yang lahir
melalui operasi Cesar tetapi sebelumnya telah masuk dalam fase persalinan, risiko ini berkurang
karena setiap persalinan menlepaskan zat yang dinamakan catecholamines dan prostaglandin yang
meningkatkan sekresi surfactant untuk pematangan paru janin.
Antibiotika biasanya diberikan untuk profilaktif terhadap infeksi, biasanya diberikan dosis tunggal kira
kira 2 jam sebelum operasi. Kulit terutama ditempat operasi harus dicuci yang bersih dan kadang
kadang dicukur, walaupun beberapa kepustakaan mengatakan bila terlalu lama akan menimbulkan
infeksi kulit akibat luka akibat cukur.
Sebelum operasi biasanya dilakukan klisma untuk mengeluarkan sisa-sisa kotoran yang masih ada
dalam usus besar sehingga tidak menimbulkan masalah saat operasi.
Persiapan yang tidak kalah pentingnya yaitu mengetahui status hemodinamik seperti pernafasan,
kardiovaskuler, system pembekuan darah, persiapan darah, pemeriksaan darah seperti kadar gula
darah, fungsi hati, ginjal dan pemeriksaan terhadap penyakit menular seperti hepatitis, HIV dll.
ANESTESIA PADA OPERASI CESAR
Sebelum ditemukannya anesthesia regional seperti spinal dan epidural, anesthesia umum sering
digunakan pada operasi Cesar. Saat ini anesthesia umum masih merupakan pilihan bila operasi harus
dilakukan sesegera mungkin karena pada anesthesia umum setidaknya lama waktu yang dibutuhkan
untuk mencari ruang antar ruas tulang belakang ditiadakan. Anestesi umum juga dapat digunakan
pada keadaan tertentu dimana anestesi regional merupakan kontraindikasi seperti gangguan
pembekuan darah, sepsis, hipovolemia berat akibat perdarahan masif, kelainan pada tulang belakang
dan riwayat operasi tulang belakang. Kerugian daripada anesthesia umum adalah hipotensi pada ibu
dan depresi pernafasan pada bayi.
Anestesi regional seperti spinal dan epidural mempunyai keuntungan tidak mempengaruhi
pernafasan bayi walaupun teknik lebih sulit dan memakan waktu lebih lama daripada anesthesia
umum. Tetapi anestesia regional mempunyai kerugian berupa dapat menyebabkan hipotensi pada
55% pasien yang dapat diatasi oleh pemberian vasopressor dan mengangkat kaki pasien. Selain itu
sering penderita mengeluh sakit kepala karena kebocoran cairan spinal pada bekas lubang tusukan
jarum. Keuntungan lain anastesia regional, pasien bisa menyusui dalam waktu yang tidak terlalu lama
dan dapat makan minum, tidak seperti anesthesia umum yang membutuhkan waktu puasa sampai
bising usus terdengar.
SAYATAN KULIT
Jenis sayatan pada kulit dipilih yang mempunyai akses optimal pada lapangan operasi, sehingga
meminimalisasi angka morbiditas ibu, tetapi juga harus mempunyai efek kosmetik yang maksimal.
Sampai tahun 1900 sayatan yang paling digemari pada saat itu adalah sayatan vertical. Pada tahun
1886 Kustner dan Rapin melakukan sayatan transversal, yang kemudian disempurnakan oleh
Pfanenstiel. Saat ini sayatan vertical telah ditinggalkan dan haya dilakukan pada kondisi tertentu saja.
Sayatan vertical dilakukan karena akses ke lapangan operasi yang sangat baik disamping sayatan itu sendiri dapat diperluas ke atas kalau ditemukan komplikasi saat operasi. Sedangkan sayatan
transversal dipercaya mengurangi nyeri pasca operasi dan mengurangi nyeri saat bernafas yang
dalam. Disamping itu sayatan transversal mempunyai efek kosmetik yang sangat baik karena
pengurangan tegangan antara tepi luka dan sayatan ini sejajar dengan garis kulit. Tetapi sayatan ini
mempunyai kelemahan karena sering timbul risiko perdarahan dibawah lapisan kulit (suprafascial
hematoma).

SAYATAN PADA DINDING RAHIM
Dahulu dilakukan sayatan longitudinal atau klasik yang memanjang dari atas ke bawah, tetapi karena
sayatan ke atas mengenai otot rahim yang berkontraksi, sering pada kehamilan berikut, pasien
mengalami robekan pada otot rahim (rupture uteri). Saat ini dengan kemajuan teknik operasi,
sayatan dilakukan secara transperitoneal profunda yaitu sayatan melintang di segmen bawah rahim
dengan terlebih dahulu membuka pembatas rahim dengan kandung kencing (plika vesikouterina).
Memang sayatan ini lebih sulit dan kadang meluas kesamping sehingga dapat melukai pembuluh
darah (A.Uterina), tetapi risiko untuk rupture uteri dikemudian hari sangat sedikit.
Pada keadaan tertentu dimana dibutuhkan kecepatan untuk melahirkan bayi sayatan klasik masih
digunakan, tetapi biasanya dilanjutkan dengan sterilisasi. Pada kehamilan premature dimana segmen
bawah rahim belum terbentuk sempurna dilakukan sayatan longitudinal rendah, yaitu seperti sayatan
klasik hanya letaknya mendekati segmen bawah rahim.

MELAHIRKAN BAYI
Bayi dilahirkan dengan cara meluksir kepala dengan tangan (penolong) atau dengan ekstraksi vakum
atau forseps ringan. Pada letak sungsang atau lintang bayi dilahirkan dengan ekstraksi pada kaki atau
bokong.
Segera setelah bayi dilahirkan yang harus mendapat perhatian adalah saluran pernafasannya, harus
segera dibersihkan dari lender dan darah yang terhirup oleh bayi. Setelah saluran pernafasan bersih
baru dilakukan upaya supaya bayi mengangis. Talipusat diikat dan dipotong dan selanjutnya bayi
diserahkan kepada tim bayi baru lahir. Plasenta dilahirkan dengan tarikan ringan atau secara manual,
tempat implantasi plasenta diperiksa secara seksama untuk mengetahui apakah ada sisa plasenta
atau selaput ketuban yang tertinggal atau tidak. Selanjutnya dinding rahim dijahit dan kontraksi
rahim diperhatikan. Keadaan saluran dan indung telur dinilai secara seksama pada kedua sisi.

PERSALINAN PADA BEKAS SC
Ada banyak keuntungan yang didapatkan pada persalinan biasa setelah pada persalinan terdahulu dilakukan operasi Cesar, diantaranya adalah pemulihan yang lebih cepat, perawatan di RS yang lebih
singkat, infeksi pasca persalinan yang lebih sedikit, dan perdarahan yang lebih sedikit sehingga
kebutuhan tranfusi darah otomatis menjadi lebih sedikit. Tetapi disamping itu ada beberapa risiko
yang harus diketahui pada persalinan bekas SC diantaranya bahaya rupture uteri atau robeknya
rahim terutama pada bekas sayatan klasik. Beberapa penelitian menunjukkan angka !% frekuensi
terjadinya rupture uteri pada bekas SC. Beberapa factor yang mempengaruhi kejadian rupture uteri
pada persalinan bekas SC adalah : pasien telah lebih dari sekali dilakukan operasi Melahirkan Caesar,
makin tua umur pasien, makin pendek jarak melahirkan, adanya demam pada persalinan terdahulu,
induksi partus, kelainan bentuk rahim(?) dll.
BEBERAPA PERTANYAAN YANG SERING DILONTARKAN PASIEN
1. Berapa lama setelah operasi boleh makan, duduk, menyusui bayi?
Jawab: Bila dilakukan anesthesia regional boleh makan segera setelah tidak mual dan bila anesthesia
umum sampai bising usus terdengar biasanya 24 jam setelah operasi, menyusui bayi bisa dilakukan
sesegera mungkin, sedangkan duduk pada anesthesia regional setelah 18 jam.
2. Apakah bisa minum obat China setelah operasi.
Jawab: Sebaiknya bila ada tendensi perdarahan, obat obat tersebut dihindari karena sifat obat yang
memiliki khasiat vasodilator.
3. Apakah pada waktu Cesar bisa sekalian dilakukan operasi pengecilan perut?
Jawab : Kalau sekedar lipectomy mengangkat lemak sekitar luka bias dilakukan tetapikalau mau
mengangkat lemak yang lebih luas diperlukan bedah Plastic dank arena perut masih menyusut,
sebaiknya dilakukan pada 40 hari setelah melahirkan, demikian pula halnya dengan
aginoplasty, kalau kolporafi yang sifatnya luas sebaiknya setelah 40 hari.
4. Apakah kalau sekalian sterilisasi akan mengganggu aktivitas seksual?
Jawab : Tidak, karena yang dipotong/diikat hanya saluran telur bukan indung telur.
5. Berapa kali operasi Cesar bisa dilakukan?
Jawab: Sebaiknya tidak lebih dari 3 kali, walaupun penulis pernah melakukan
sampai 5 kali dan saat ini pasien sehat, tetapi hal ini tidak dianjurkan.
6. Apakah operasi Cesar dapat menyebabkan kematian?
Jawab : Bisa, oleh karena itu harus dilakukan informed consent terlebih dulu.
7. Apakah tranfusi darah rutin diberikan?
Jawab : Tidak, kecuali pada penderita perdarahan, rupture uteri, janin kembar
dll.
8. Kapan hubungan kelamin bisa dilakukan setelah operasi cesar?
Jawab : sama seperti melahirkan biasa sebaiknya hubungan kelamin dilakukan setelah selesai
masa nifas kira kira 6-8 minggu setelah operasi.

KEPUSTAKAAN.
1. Gilstrap III LC, Cunningham FG and Vandorsten. Operative Obstetrics,2nd ed.McGrawhill,2002: 257-276.
2. Lee-Parritz A, Surgical techniques for Cesarean delivery: What are the best practice?,
Clin.Obstet-Gynecol,2004,vol47,No.2:268-298.
3. WickwireJC and Gross JB.From Preop to Postop: Cesarean Delivery From Anesteshiologist’s Point
of View,Clin Obstet-Gynecol,2004, Volume 47, Number 2 :299-316.
4. Doherty EG and Eichenwald EC. Cesarean Delivery: Emphasis on the Neonate.
Clin.Obstet-Gynecol,2004, vol47,No.2:332-341.
5. Shipp TDTrial of Labor After Cesarean: So, What Are The Risks?, Clin.Obstet-Gynecol,2004,vol 47,
No.2:365-377.

sumber :  Dr. Yahya Darmawan, SpOG. Di tulis kembali dari “rumahsakitmitrakemayoran.com”

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s